Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Hermeneutik Modern

HERMENEUTIK MODERN,
DARI SAKUTARO KE KUNTOWIJOYO

Oleh Dr. Abdul Hadi W.M.

Apabila kita berbicara tentang teori sastra, khususnya pada masa sekarang ini, selalu yang muncul dalam kepala kita ialah teori yang muncul dan hanya berkembang di Barat. Seakan-akan hanya teori para pakar Barat sajalah yang relevan dan tepat guna dalam menyusun berbagai bentuk kritik sastra dan memahami gejala-gejala sastra. Sering kita lupa bahwa tidak semua teori dari Barat itu siap pakai dan bisa bekerja dengan baik dalam menghadapi gejala-gejala sastra yang timbul di Asia, atau di Indonesia pada khususnya. Hal ini disebabkan karena kita kurang menyadari bahwa di belakang teori itu ialah pemikiran dan pandangan hidup yang tengah berkembang di Barat, yang berbeda dengan pemikiran dan pandangan hidup yang tengah berkembang di negeri kita.
Sudah barang tentu tidak semua teori yang berkembang di Barat itu tidak ada gunanya untuk dipelajari, pun sudah barang tentu tidak semuanya harus kita campakkan. Akan tetapi tulisan ini hendak mengingatkan juga, bahwa di Timur pun, sekarang seperti halnya dulu, terdapat cukup banyak pemikiran teoritis mengenai sastra, yang niscaya berfaedah jika dipelajari dengan sungguh-sungguh dan dapat dijadikan landasan teoritis yang memadai bagi studi dan kerja kritik sastra. Di antaranya ialah gagasan dan prinsip sastra yang telah diletakkan oleh Anandawardhana, Abhjnavagupta, Ibn Sina, Abdul Qahir al-Jurjani, Imam al-Ghazali, Ibn `Arabi, Jalaluddin Rumi, dan lain-lain dari zaman klasik, atau Sri Aurobindo, Rabindranath Tagore, Muhammad Iqbal, Kahlil Gibran, A. K. Comaraswamy, Seyyed Hossein Nasr, Wang Fu-chih, Sinkichi Takahashi, Hagiwara Sakutaro, dan lain-lai dari zaman modern..
Di kalangan sastrawan Indonesia sendiri juga dapat ditemukan teori dan landasan teoritis penciptaan karya sastra yang patut mendapat perhatian. Misalnya teori atau landasan teoritis yang dikemukakan tokoh-tokoh seperti Sanusi Pane, Armyn Pane, Chairil Anwar, Subagio Sastrowardojo, Iwan Simatupang, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Sutardji Calzoum Bachri, Kuntowijoyo, Danarto dan lain-lain.
Kita dapat mengambil contoh pendekatan Iqbal yang bersumber dari tradisi hermeneutik Sufi dan dilandasi oleh semangat profetik, bisa dipertemukan dengan pandangan Heidegger seperti terlihat dalam bukunya The Origin of Work of Art, yang dijadikan acuan pendekatan hermeneutik Hans Georg-Gadamer. Pendekatan Iqbal dan Heidegger terhadap sastra, khususnya puisi, ternyata berfaedah sebagai landasan untuk memahami berbagai ragam karya spiritualistik, sufistik, dan profetik yang muncul selama beberapa dasawarsa ini di Timur maupun Barat, khususnya di Dunia Islam, termasuk di belahan bumi Nusantara ini. Gagasan sastra Kuntowijoyo dan Danarto, untuk mengambil contoh di Indonesia jika dikaji secara mendalam akan tampak pertautannya dengan pemikiran di atas.
Seperti Iqbal, Heidegger dalam bukunya di atas memandang karya sastra bukan sekadar obyek estetik, melainkan terutama sebagai pengalaman mentransformasi jiwa ke dalam ungkapan estetik. Melalui cara demikian kita memiliki pemahaman yang lebih kaya tentang diri kita dan dunia di sekeliling kita.
Pendekatan semacam itu selaras dengan cita-cita sebuah sastra besar, yang lebih dari sekadar permainan, akan tetapi oleh jiwa dan pemikiran yang mendalam. Apabila bagi Heidegger puisi merupakan ‘fundasi bagi kebenaran’ (stiftung der Wahrheit), dan oleh karena itu puisi juga semacam falsafah dan ilmu dan bisa mendampingi serta melengkapi keduanya dalam mencapai kebenaran; maka bagi Iqbal kurang lebih demikian juga. Bahkan Iqbal lebih jauh lagi ke depan, dengan mengatakan bahwa sastra yang sejati mestinya mampu menjadi pembimbing kemanusiaan dengan pesan keruhanian dan profetiknya. Jika Heidegger menunjuk puisi-puisi Hoerderlin sebagai contoh karya sastra yang membawakan pesan dan semangat profetik, suatu semangat vital yang telah ditinggalkan oleh cita-cita ilmu pengetahuan modern, maka Iqbal menunjukkan Jalaludin Rumi sebagai idola baru bagi kemanusiaan karena puisi-puisinya yang agung dalam Matsnawi.
Didasari oleh pengamatan bahwa gagasan sastra yang pernah muncul di Timur perlu dilihat, karena relevansi dan aktualitasnya, maka tulisan ini saya sajikan. Kami akan ketengahkan terlebih dahulu pandangan Hagiwara Sakutaro, penyair dan teoritikus sastra muasir Jepang, berkenaan dengan hakekat dan kodrat puisi, serta kunci-kunci yang diperlukan untuk memasuki jagat yang dirangkumnya. Ada beberapa alasan mengapa teori Sakutaro saya pilih.
Pertama, teori itu disusun oleh seorang teoritikus sastra yang sekaligus praktisi sastra, dan teorinya didasarkan pada penyelidikan mendalam atas berbagai corak dan genre sastra di Barat dan di Timur, khususnya Eropah dan Jepang.
Kedua, pandangannya mewakili pandangan banyak penyair modern di Asia yang bercita-cita membawakan semangat kebudayaan baru. ketiga, teorinya bisa dijadikan jembatan untuk memahami gejala sastra yang timbul di lingkungan tradisi Timur, yang sekalipun telah modern masih tetap spiritualistik, khususnya dalam memahami timbulnya gejala sastra sufistik di negeri-negeri Islam seperti Indonesia, Mesir, Libanon, Iran, Turki dan lain-lain. Kecuali itu gagasan Sakutaro, dan gerakan sastranya, memiliki pengaruh besar dalam dunia penulisan puisi di Jepang sampai masa yang terakhir ini dan Sakutaro sendiri dipandang sebagai Bapak Gendaishi (Puisi Muasir atau Kontemporer) Jepang.
Hagiwara Sakutaro bukan saja dipengaruhi oleh sastrawan dan filosof Barat seperti Dostoyevski, Edgar Allan Poe, Schoupenhauer dan Nietzsche, tetapi juga oleh tokoh-tokoh sastra klasik Jepang, khususnya dari tradisi Zen. Satu-satunya buku teori sastra yang dia tinggalkan berjudul Prinsip-prinsip Puisi, yang dikerjakannya selama hampir sepuluh tahun.
Dalam bukunya itu dia memperkenalkan istilah kunci Shiseishin (Semangat Puitik), dan kemudian menghubungkannya dengan bahasa figuratif puisi dan rumah spiritual penyair. Bagi Sakutaro puisi, terutama sekali, adalah ekspresi nostalgia. Menurut dia, bentuk puisi kurang penting dibanding semangat tertentu yang tersembunyi di dalamnya, yaitu shiseishin. Struktur juga tak penting dalam puisi, dan tidak bisa mengantarkan kita memahami puisi, apabila tidak memahami shiseishin.
Shiseishinlah yang membedakan puisi dari prosa, bukan bentuk dan struktur lahirnya. Shiseishin dapat menjelmakan diri dalam berbagai bentuk yang berbeda. Ia terdapat dalam genre sastra yang lain dari puisi, seperti novel dan drama. Namun demikian, manifestasinya yang paling murni dijumpai dalam puisi, khususnya lirik. Tanpa shiseishin, puisi akan kehilangan raison d’etre.
Benarnya teori Sakutaro bahwa shiseishin terdapat dalam genre sastra yang lain kecuali lirik, bisa dilihat pada dialog-dialog Plato seperti Simposium dan Republik, drama T.S. Eliot Pembunuhan di Katedral, karya Iqbal Javid-namah, kitab profetik Rumi Matsnawi, cerpen-cerpen Kuntowijoyo dan Danarto, juga Iwan Simatupang dan Gerson Poyk, atau drama puitik Saleh Abdussabur Tragedi Al-Hallaj. Juga pada cerpen-cerpen Tagore, Sadegh Hidayat dan prosa lirik Amir Hamzah.
Dalam aforismenya yang terkenal, berjudul “Ciri-ciri Shiseishin”, Sakutaro menyebut ada sekitar delapan macam semangat puitik utama yang bisa dijumpai pada puisi umumnya. Yaitu:
1. Puisi berusaha meninggi mengatasi kenyataan. Di sini semangat puitik secara esensial ialah romantik.
2. Puisi senantiasa mencari yang ideal. Di sini semangat puitik secara esensial ialah subyektif.
3. Puisi memperbaiki bahasa. Di sini semangat puitik secara esensial bersifat retorik.
4. Puisi mengangkat keindahan setinggi dan bersama kebenaran. Di sini semangat puitik secara esensial ialah estetis.
5. Puisi mengeritik kenyataan. Di sini semangat puitik secara esensial ialan pedagogis (mendidik).
6. Puisi mengangankan dunia yang transendental. Di sini semangat puitik secara esensial ialah metafisis.
7. Puisi menuntut bentuk. Di sini semangat puitik secara esensial ialah normatif.
8. Puisi menuntut kebangsawanan jiwa dan keunikan. Di sini semangat puitik secara esensial ialah mengunggulkan keagungan jiwa.
Yang dimaksud dengan ‘kenyataan’ oleh Sakutaro ialah kenyataan lahiriah atau kenyataan sehari-hari alias keberadaan rutin seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Kenyataan yang ditunjuk oleh Sakutaro mungkin bisa dipadankan dengan apa yang dimaksud Derrida sebagai ‘presence’. Apabila seorang penyair tidak menampakkan kenyataan dalam puisi-puisinya, bukanlah karena mereka ingin mengaburkan kenyataan sebagaimana dikatakan oleh Focault, pun bukan karena penyair ingin mengungkapkan ilusi sebagaimana dikatakan oleh seorang kritikus Marxis Spanyol, yaitu Caldwell. Yang merupakan penyebab utamanya ialah shiseishin, yang kodrati dalam diri umumnya penyair. Melalui penglihatan batinnya mereka insaf bahwa rumah sejati manusia sebenarnya bukanlah di dalam kenyataan sehari-hari, tetapi di dalam kenyataan spiritual jiwanya.
Jika seorang penyair tidak puas dengan keadaan, sebetulnya bukan karena latar belakang sosial, melainkan karena temperamen puitiknya yang sangat peka terhadap keburukan dan korupsi yang tampak dalam kehidupan sehari-hari, maka ia selalu berusaha menghindarinya dan mengeritiknya. Penyangkalan ini dilakukan demi cita-cita yang lebih tinggi.
Dalam esainya itu Sakutaro juga menyinggung kemampuan profetik penyair yang sejati, seperti misalnya yang dimiliki oleh Dostoyevski dan William Blake, dan juga jika mau ditambahkan ialah Tagore dan Iqbal. Pengertian profetik yang dimaksud Sakutaro dekat sekali dengan pengertian serupa yang diberikan oleh ahli sosial dan ekonomi Amerika, Kenneth Boulding, ketika membedakan apa yang disebutnya dengan ‘agama kependetaan’ dan ‘agama profetik’. Pada mulanya agama-agama besar seperti Kristen dan Islam bersifat profetik yang menggerakkan perubahan-perubahan besar atau transformasi budaya. Menurut Sakutaro penyair profetik memiliki visi yang tajam dan jauh ke depan, mengetahui lubuk rahasia kehidupan dan cepat sekali menangkap gejala baru yang akan muncul ke permukaan, misalnya dalam bidang kebudayaan. Semangat inilah yang membuat penyair tampil sebagai pelopor pembaharuan atau perintis semangat kebudayaan baru, seperti halnya terbukti di Jepang sendiri dan di Indonesia.
Adalah shiseishin, kata Sakutaro, yang membuat penyair memiliki kemampuan profetik semacam itu, sehingga karya-karyanya mampu melampaui zaman dan peradaban yang melahirkannya. Suatu hal yang menarik ialah bahwa Iqbal pun, sebelumnya, telah berbicara tentang penyair yang mempunyai visi terang, tercerahkan dan dapat menyulut transformasi budaya, yang oleh Iqbal disebut raushan damir dengan memberi contoh Jalaludin Rumi.
Dalam kesempatan kali ini, sayang, kita tidak bisa berbicara banyak mengenai hal ini. Akan tetapi apa yang menarik dari teori Sakutaro ialah bagaimana dia menghubungkan bahasa figuratif puisi dengan rumah spiritual penyair. Seperti telah kita ketahui bagi Sakutaro seorang penyair memiliki bukan saja rumah fisik seperti lingkungan sosial, akan tetapi juga rumah spiritual yang merupakan rumahnya yang sejati dan berakar di alam metafisik.
Gagasannya ini memaksa kita menghubungkan diri dengan tradisi hermeneutik Plato yang memandang bahwa puisi tidaklah tepat bila dikatakan sebagai bagian dari etika, suatu pandangan yang berlaku di Yunani pada masa Sopocles dan kemudian diabaikan oleh Aristoteles. Jika puisi juga merupakan jalan untuk mencari kebenaran, sebagaimana ilmu dan filsafat, maka puisi harus dimasukkan menjadi bagian dari metafisika, dan karenanya berhak menggunakan logika. Demikian Plato berpendapat, sebagaimana kita lihat dalam bukunya Phaedrus.
Gagasan ini selaras dengan apa yang berlaku dalam tradisi Islam, yang selalu menghubungkan puisi dengan spiritualitas, yang hubungan puisi dengan metafisika dan logika tidak terpisahkan dan keduanya menjadi bagian yang utuh dalam puisi, sebagaimana dikemukakan oleh Seyyed Hossein Nasr dalam Islamic Art and Spirituality (1987), khususnya dalam bab “Metaphysics, Logic dan Poetry in the Orient”. Menurut Nasr, dalam tradisi Islam puisi merupakan bagian dari upaya mencapai apa yang disebut hikmah, dan sebagai upaya kerohanian ia membantu mengajak manusia kembali ke wujudnya yang lebih tinggi dan ke kesadaran yang lebih tinggi pula.
Saya ingin kembali ke teori Sakutaro yang menghubungkan shiseishin dengan rumah spiritual penyair dan pemilihan bahasa figuratif sebagai bahasa komunikasi spiritualnya. Sudah menjadi kodrat penyair untuk selalu mencari rumah spiritualnya, kata Sakutaro, dan apabila ia menemukannya akan berusaha mengekalkannya dalam sebuah pelukisan yang bisa dirasakan secara inderawi dan rasa.
Bahasa figuratif adalah bahasa yang sesuai bagi hasratnya itu, karena dalam bahasa figuratif yang memainkan peranan utama ialah kata-kata yang mengandung imaji visual dan auditif, jadi kongkrit, membangkitkan indera, dan ide penyair menjadi dapat dirasakan. Tapi berbeda dengan bahasa figuratif biasa, bahasa figuratif puisi adalah hasil upaya penyair untuk menspiritualkan dunia fisik atau memberinya nilai-nilai spiritual.
Tidak dapat tidak, Sakutaro berada di dalam tradisi hermeneutik dalam mendekati puisi. Tradisi ini, di Timur maupun di Barat, sebenarnya telah lama ada dan berkembang, namun terpotong oleh tradisi estetika semenjak zaman Aufklarung yang empiris seperti terlihat pada estetika yang ditegakkan Baumgarten dan Imanuel Kant, dan dalam masa yang begitu lama dilupakan di Barat di bawah pengaruh para filosof rasionalis, empiris, positivis dan materialis. Sekalipun demikian secara tidak kenal lelah tetap dikembangkan terutama oleh para penyair romantik, oleh tokoh-tokoh seperti Goethe, Schiller, Dostoyevski, T. S. Eliot dan kemudian oleh Heidegger dan muridnya yang berpengaruh di Barat, Hans Georg-Gadamer.
Sedang di Timur tradisi hermeneutik tak pernah tidak berkeputusan, meskipun dalam masa-masa tertentu mesti berhadapan dengan gagasan-gagasan sastra dari Barat yang ingin menafikan spiritualisme seperti proletarianisme, realisme sosial, psikologisme yang bersumber dari ajaran Freud sehingga gelombang teori sastra mutakhir.
Kata-kata hermeneutik dalam tradisi Yunani berasal dari Hermes, tokoh yang ditugaskan menyampaikan pesan spiritual ke dunia. Peran Hermes ini sering dijajarkan dengan Nabi Idris dalam tradisi Islam, sebagaimana dikemukakan oleh Seyyed Hossein Nasr, Nabi Idris adalah nabi pertama yang diberi kesempatan melakukan mikraj ke langit oleh Allah dan sekembalinya ke bumi membawa pesan ukhrawi dan spiritual yang sarat.
Maka dalam tradisi hermeneutik, pesan kerohanian menduduki tempat sentral dan istimewa, dan pemahaman atas karya sastra, terlebih-lebih kitab suci hanya mungkin apabila seseorang mampu mencapai hakekat terdalam atau makna spiritual yang dikandung suatu karya. Sahl al-Tustari, sufi abad ke-10 dari Basra dan guru al-Hallaj, dipandang sebagai pelopor tradisi hermeneutik dalam tafsir al-Qur’an yang kemudian dilanjutkan oleh tokoh-tokoh seperti Qusyairi. Kedua tokoh ini dikenal dengan tafsir sufistiknya atas al-Qur’an, yang kemudian berkembang menjadi metode tersendiri yang disebut ta`wil.
Oleh karena karya-karya para penyair Muslim, khususnya karya pengarang sufi, juga sarat dengan pesan spiritual dan sebuah karya tidak mungkin dianggap karya baik tanpa ide sentral tauhid, maka metode hermeneutik rupanya sesuai untuk dikembangkan.
Ta`wil berusaha menyingkap hakekat terdalam suatu karya sastra, melalui isyarat-isyarat simbolik yang merupakan kunci untuk memasuki jagat sebuah karya. Dengan mencapai hakekat atau makna terdalam suatu karya, dan memahami pesan spiritualnya, maka barulah pembaca mencapai tujuannya, yaitu berdialog dan berkomunikasi dengan karya secara sehat dan dialektis. Syarah Rub`ai Hamzah Fansuri karya Syamsudin al-Sumatrani abad ke-17 di Aceh, merupakan contoh dari penerapan metode hermeneutik, yang walaupun bersahaja namun memiliki bobot intelektual dan dapat memperkaya pemahaman dan kesadaran kita mengenai diri kita dan dunia tempat kita berada.
Di Barat pun tujuan metode hermeneutik adalah demikian sebagaimana dikemukakan oleh Heidegger, yaitu sebagai upaya untuk memperoleh pengalaman spiritual dari suatu karya dan melalui pengalaman itulah kita terdorong melakukan tranformasi jiwa sehingga memiliki pengalaman yang lebih kaya tentang segala sesuatu termasuk diri kita pribadi. Contoh lain pendekatan hermeneutik dalam tradisi Islam yang mampu membawa pemahaman dan kesadaran akan cita yang tinggi ialah takwil Ibn `Arabi atas karyanya sendiri Tarjuman al-`Ashwaq, dan penafsiran Muhammad Iqbal terhadap Matsnawi karya Rumi baik dalam esai maupun puisi-puisinya. Juga pendekatan serupa dalam penerapannya yang berhasil tampak pada pembahasan Seyyed Hossein Nasr atas karya para penyair sufi seperti Mantiq al-Tayr `Attar dan lain-lain. Henri Corbin juga berhasil memasuki karya Ibn`Arabi dengan pendekatan serupa, sebagaimana Annemarie Schimmel ketika membicarakan karya Rumi dan Hafiz.
Pendekatan hermeneutik, sebagaimana dicontohkan oleh pelopor dan penerus tradisi takwil dalam tradisi Islam ini, saya kira masih relevan untuk memahami karya-karya modern, oleh karena, betapa pun, masih banyak karya-karya modern di Timur dan Barat yang kaya dengan pesan spiritual. Di Jepang kita telah melihat gagasan Hagiwara Sakutaro, untuk mengambil sebuah contoh, yang dengan tegas menghubungkan semangat puitik atau puisi dengan pengalaman transendental dan metafisik. Hal serupa juga bisa kita lihat pada Hans Georg-Gadamer di Jerman, dan pada upaya Kuntowijoyo dan rekan-rekannya di Indonesia.
Dalam esainya yang menarik “On the Contribution of Poetry to the Search for truth” Gadamer mengemukakan perbedaan situasi dialog yang terjadi di dalam bahasa percakapan dan di dalam karya sastra. Setiap dialog, menurut Gadamer, dalam kenyataan berlangsung di atas permainan timbal balik antara soal dan jawab. Tidak setiap pernyataan yang kita kemukakan mencapai maksud akhir. Ini yang disebut olehnya sebagai ciri hermeneutik dari percakapan: ketika kita saling berbicara dengan orang lain, kita tidak bisa banyak menyajikan fakta yang terdefinisikan dengan baik, sehingga kita pun tidak mampu mengemukakan aspirasi dan pengetahuan kita ke cakrawala yang lebih luas. Setiap pernyataan menemui nasib terseret ke dalam persoalannya sendiri, sehingga pada akhirnya pernyataan tersebut dipahami sebagai jawaban yang didasarkan atas motif tertentu.
Pengalaman bahasa dalam percakapan tak pernah mencapai hasil yang diharapkan dari sebuah dialog. Banyak hal yang tidak bisa disampaikan melalui percakapan lisan. Tetapi, kata Gadamer, ada pengalaman bahasa lain yang memiliki watak sendiri, yaitu bahasa puisi, ciri atau watak yang membuat puisi mampu memberikan sumbangan dalam mencapai kebenaran.
Seseorang yang ingin memahami puisi biasanya memusatkan perhatian pada puisi itu sendiri, dan tak memerlukan wacana lain untuk meresapi sebuah puisi. Oleh karena begitu membaca sebuah puisi kita mengetahuinya bahwa itu merupakan puisi yang sejati, maka biasanya kita tidak pernah banyak bertanya mengenai siapa pengarangnya. Pertanyaan kita biasanya ialah mengenai apa yang dikandung dalam puisi itu, khususnya pesan kerohanian atau moralnya. Puisi sejati hadir sebagai dunia yang lengkap dalam dirinya, dengan caranya sendiri. Si penyair dan pembaca masing-masing berdiri bebas, yakni bebas dari pamrih dan prasangka.
Memang, kata Gadamer, kodrat puisi itu unik dan tidak bisa ditukar dengan yang lain. Jika tidak unik dan mandiri bahasanya, maka puisi tidak akan menimbulkan kesan yang mendalam pada pembacanya, kurang memiliki pesona dan kehilangan suasana kerohanian. Kata-kata puisi ialah kata-kata pilihan. Dari sini Gadamer mengatakan bahwa pendekatan hermeneutik merupakan seni memahami sesuatu yang tampak asing dan tidak terpahami, dan bahasa puisi memiliki ciri seperti itu.
Untuk sebuah pendekatan hermeneutik yang diperlukan ialah kemampuan memahami apa yang dituntut oleh puisi yang sedang dihadapi. Heidegger menyebutnya sebagai metode verstehen. Kata verstehen dia hubungkan dengan kata phronesis, yang digunakan oleh Aristoteles, yang apabila ditafsirkan secara kerohanian berarti “pengetahuan di dalam situasi nyata keberadaan”. Jika kita berhadapan dengan puisi, maka kita akan berada di dalam situasi nyata keberadaan kita sendiri yang tertentu, dan jika kita ingin memahami situasi itu maka kita perlu memiliki pengetahuan bagaimana mendengar dan meresapi apa, yang secara tersirat, disampaikan sebuah puisi melalui tamsilnya.
Sebagaimana filosof lain, Gadamer memang melihat seni sebagai permainan (play), akan tetapi bukan permainan yang tidak punya makna. Karya seni yang sejati ialah permainan sungguh-sungguh yang digerakkan oleh suatu kebenaran hakiki dan kekal.
Kebenaran serupa itu dicapai oleh atau melalui pengalaman rohani puncak, katakanlah intuisi. Apabila kita memasuki sebuah puisi sebagai peninjau maka kita akan terlibat dalam permainan dengan karya seni tersebut. Keterlibatan dalam permainan itu penting, sebab tanpa itu kita tidak akan bisa memasuki dunia atau horison sebuah puisi. Di dalam karya seni atau puisi kita harus bergulat untuk menyingkap cakrawala kerohanian yang disajikannya, untuk kemudian keluar dengan pengalaman baru yang kaya mengenai diri kita dan dunia. Pengalaman dengan situasi nyata keberadaan, yang dihasilkan dalam pertemuan kita dengan karya seni, bisa mendorong kita melakukan transformasi dan transendensi.
Kuntowijoyo dalam sejarah sastra Indonesia modern sebagaimana Danarto, dikenal dengan gagasannya mengenai sastra transendental. Gagasan sastra transendental meletakkan makna spiritual begitu penting dalam karya sastra, bahkan sentral. Dalam hal Kuntowijoyo dan Danarto sendiri ialah gagasan sufistik kehidupan yang bersumber dari ajaran kerohanian Islam. Walaupun Kuntowijoyo bukan seorang kritikus sastra yang prolifik, beberapa esainya –khususnya tentang kritik sastra – memperlihatkan bahwa ia juga seorang pemikir. Salah satu esainya yang dapat dihubungkan dengan tradisi hermeneutik ialah “Prosedur Lingkaran Dalam Kritik Sastra” (Horison, 1973).
Dalam esainya itu Kuntowijoyo mengingatkan bahwa yang kita perlukan adalah kritik sastra, yang selain berdiri sendiri sebagai kritik sastra, ialah juga kritik yang mampu membawa hasil pada kemajuan sastra. Ia menyebut kritik semacam itu sebagai kritik yang operatif dan berbuah. Sebab, katanya, yang kita harapkan sekarang ialah suatu pembangunan kembali dalam pemikiran (termasuk pemikiran dalam sastra) yang mampu membuat orang terhindari dari memilih antara pengalaman yang miskin dan pincang di satu pihak, dan akal yang dibuat-buat di lain pihak.
Kuntowijoyo berpendapat bahwa pemahaman manusia tentang dirinya sendiri telah memakai kunci baru: simbolisme. Maka pertanyaan mengenai hakekat sastra dan hubungannya dengan realitas harus dirubah. Sastra bukan sekedar representasi dari realitas, tapi simbol. Simbol ialah penemuan dan ciptaan manusia, yang merupakan upaya spiritualnya untuk bisa hidup dalam dimensi baru daripada realitas. Di situ manusia menemukan dirinya dan kesadarannya yang lebih kaya. Penemuan simbol yang hanya milik manusia ini telah membuatnya berbeda dengan binatang. Mite, agama, bahasa, kesenian, sejarah dan ilmu pengetahuan adalah simbol. Sastra adalah simbol yang mempergunakan bahasa sebagai alatnya. Tiap simbol mempunyai kebenarannya sendiri, hingga jangan mencari kebenaran dari satu simbol pada simbol lainnya. Jadi jangan mencari kebenaran dari sastra di dalam ilmu pengetahuan, karena tidak akan didapatkan.
Kuntowijoyo secara tersirat mengatakan bahwa kebenaran atau makna karya sastra tidak berada di dalam teori sastra yang banyak dikemukakan para ahli teori, dan oleh karena itu tempat teori sastra dalam kritik sastra tidak boleh menjadi sentral. Kuntowijoyo juga menolak pandangan strukturalis bahwa isyarat-isyarat dalam karya sastra diserupakan dengan sign. Sign (tanda, ayat) menunjuk kepada benda atau kejadian dan menuntun pada perbuatan praktis. Tetapi yang ada dalam sastra adalah simbol, dan simbol ialah sarana konsepsi tentang obyek. Dalam simbol ini manusia mentransformasikan lingkungannya. Simbol merupakan dunia baru.
Melalui penjelasannya ini Kuntowijoyo menyatakan bahwa hubungan karya sastra dengan realitas bukanlah seperti hubungan antara cermin dan benda di hadapan cermin. Oleh karena itu keharusan dalam membaca karya sastra berlainan dengan keharuan yang terjadi di dalam menghadapi peristiwa sehari-hari. Orang bisa terharu oleh pembunuhan, kemiskinan atau kemalangan. Orang menangkap kejadian sehari-hari dengan feeling atau emosi yang langsung tertuju pada obyek. Tetapi menangkap karya sastra tidak demikian halnya. Sastra tidak menunjuk obyek atau kejadian, melainkan gagasan tentang sesuatu. Kadang-kadang sastra ialah sublimasi, proyeksi atau katharsis terhadap suatu kejadian. Karena itu sastra tidak cukup ditangkap dengan kesan atau perasaan. Sebab tidak sesempit itu misi sastra, apalagi karya besar.
Kadang-kadang sastra ingin mencapai sesuatu yang jauh, dalam dan sunyi dalam potensi manusia. ia kerap bicara dalam suatu keheningan yang kudus. Oleh karena itu makna dari karya sastra harus ditangkap dengan cermat dan hati-hati. Sastra menuntut lebih penangkapan atau kesan subyektif, sebab jika demikian tidak akan sampai ke makna yang dikandung karya sastra. Karya sastra berkesan bukan karena kualitasnya, melainkan karena fungsinya.
Makna dari sastra menuntut pengerahan seluruh potensi manusia. Khususnya pemahaman, sebab karya sastra bukan hanya rasa, tetapi juga mengandung akal aktif (inteligensia). Secara rinci Kuntowijoyo menyatakan bahwa ada dua hal yang diperlukan dalam memasuki karya sastra: Pertama, penghayatan, penangkapan, pencerapan atau perception; Kedua, pengetahuan, pemahaman, pengertian, konsepsi. Yang pertama peristiwa masuknya suatu rangsang dalam sistem syaraf, yang kedua pemasukan rangsangan itu ke dalam kategori yang telah dikenal sebelumnya. Dengan penghayatan, pengetahuan dan pemahaman, maka makna suatu rangsangan dibulatkan.
Suatu hal yang penting dari gagasan Kuntowijoyo ialah upayanya untuk memasukkan intuisi atau Einfuhlung dalam kerja kritik sastra. Segi intuitif pemahaman harus dibedakan dari pemahaman diskursif dalam menghadapi karya sastra, ujar Kuntowijoyo. Kedudukan sastra itu berbicara kepada pembacanya melalui mutu ungkapannya, dan di dalam ungkapan bermutu itu pesan kerohanian disugestikan. Kenyataan bahwa karya sastra merupakan hasil potensi manusia yang selengkapnya, patut menuntut pemahaman dan penghargaan berdasar pengetahuan. Kritik yang diperlukan adalah kritik yang hidup, yang memandang sastra sebagai sesuatu yang hidup dan bersifat estetis, serta memiliki pesan kerohanian dan gagasan sentral.
Keyakinan Kuntowijoyo bahwa pesan kerohanian dalam sastra perlu ditumbuhkan terus, dan perlu ditanggapi secara positif oleh kritikus sastra, tampak dalam esainya “Saya Kira Kita Juga Memerlukan Sebuah Sastra Transendental” (1982). Dalam esainya itu Kuntowijoyo menyatakan bahwa salah satu peran penting yang mungkin bisa dimainkan oleh pengarang dengan karya sastranya ialah bagaimana menemukan wajah manusia yang otentik, dengan segala kefitrian dan kebermaknaannya dalam hidup. Menurut Kuntowijoyo kita telah terlalu banyak menyerah pada empirisme dan hedonisme (juga pada dekonstruksi dan strukturalisme yang berpamrih, penulis), dan kehidupan kita jadinya berpusar di sekitar hal-hal yang sekunder. Kita terlalu terikat pada aktualitas dan pengalaman empiris, dan karenanya sudah waktunya untuk membebaskan diri darinya supaya kita dapat memperoleh gagasan yang murni tentang dunia dan manusia. Melalui karya sastra, kita harus sanggup mencipta sebuah dunia alternatif yang tidak dibatasi oleh ruang, waktu dan peristiwa keseharian. Kecuali itu, kita juga harus membebaskan diri dari keterikatan lama, yang sebagai sastrawan hanya ingin menjadi jurubicara gejala. Yang lebih penting sekarang ialah bagaimana mengungkapkan gejala yang berada di balik gejala tangkapan indera. Ini berarti kita harus menjadi wakil dari dunia yang penuh makna. Cara kita mendekati obyek-obyek sastra ialah seperti kita menangkap hakekat segala sesuatu.
Kuntowijoyo dalam gagasannya itu jelas menghubungkan diri dengan tradisi sastra yang telah dirintis Iqbal. Sastra Transendental menurutnya mengutamakan makna, bukan semata bentuk; yang spiritual dan bukan yang empiris; dan yang di dalam dan bukan yang dipermukaan. Maka pendekatan hermeneutik mutlak diperlukan untuk sastra semacam itu.
Dalam upaya mengakhiri pembicaraan ini, saya ingin mengetengahkan sedikit ikhtiar Sutardji Calzoum Bachri. Ketakpuasannya terhadap kritik sastra yang berkembang di Indonesia dewasa ini, telah mendorong penyair ini memberikan keterangan pengantar untuk setiap kumpulan puisi yang disiarkannya. Kata pengantar kumpulan puisi yang ditulisnya itu bisa dilihat pada kumpulan O. Amuk dan Kapak, yang apabila diteliti secara mendalam akan memperlihatkan pertautan pemikiran sastra Sutardji dan landasan teoritisnya dengan pendekatan hermeneutik.
Misalnya ketika dia menerangkan mengapa dia menggunakan citraan kapak. Katanya: “Imagi kapak memecahkan kemampatan. Sekali orang jatuh pada kerutinan, saat itu pula ia jatuh dalam kemampatan. Batin menjadi mampat. Untuk itu dibutuhkan kapak guna memecahkannya hingga hari-hari akan mengalir dengan deras menantang kita untuk kreatif.”
Jadi dalam citraan kapak tersimpul pesan spiritual, dan citraan kapak tersebut telah menjelma citraan simbolik atau tamsil.

http://ahmadsamantho.wordpress.com/2007/12/26/hermeneutik-modern/

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pendekatan Efektif Dalam Proses Negosiasi

Selama ini analisis tentang proses negosiasi umumnya menggunakan 2 pendekatan utama, game theory yang juga dikenal dengan teori strategis dan behavioral negotiation theory. Dalam perkembangannya, banyak akademisi meneliti masalah-masalah yang berkaitan dengan bargaining sehingga kemudian game theory ini berkembang menjadi teori negosiasi strategis (strategic-negotiation theory) dimana strategi waktu, institusi, informasi dan komitmen menjadi hal yang menentukan di dalamnya. Dalam hal ini strategic-negotiation theory fokus pada pembandingan antara perilaku ekuilibrium dan perilaku efisiensi.

A.Strategic Negotiation Theory (Game Theory)

Game Theory mempelajari interaksi yang terjadi antara pihak-pihak yang terlibat konflik. Dalam hal ini tiap pihak akan memilih strategi yang menguntungkan baginya. Studi tentang strategi inilah yang menjadi objek kajian game theory. Itulah mengapa teori ini juga disebut sebagai teori strategis. Dalam teori ini asumsi yang berlaku adalah rasionalitas pihak yang terlibat untuk mencapai kemenangan terbesar dan minimalisir resiko.

Dalam penyelesaian persoalan bargaining digunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan aksiomatik dan pendekatan strategis. Pendekatan aksiomatik mengandung sejumlah aksioma menguntungkan yang mengimplikasikan solusi unik dan bersifat macro-oriented. Pendekatan ini juga dikenal sebagai teori kooperatif karena pihak yang terlibat boleh membuat perjanjian yang mengikat satu sama lain. Pendekatan kedua adalah pendekatan strategis yang fokus pada pilihan pelaku tentang strategi dalam game modeling yang kooperatif. Teori negosiasi strategis dengan keterbatasan informasi umumnya mengggunakan doktrin Harsanyi dimana negosiator muncul di hadapan lawan dengan berpura-pura tidak mengetahui info apapun untuk memancing info dari lawan. Doktrin ini kemudian diaplikasikan ke dalam model bargaining statis. Teori ini menganalisis proses negosiasi melalui konsep bentuk perluasan,struktur pembayaran,struktur informasi dan ekuilibrium yang kemudian mengarahkan pada 5 poin penting. Poin ini mencakup penawaran, jangka waktu, informasi, fungsi kebutuhan serta asumsi tambahan jika negosiasi melibatkan beberapa penjual atau pembeli.

B.Behavioral Negotiation Theory

Neale dan Northcraft kemudian mencoba mengidentifikasi proses terjadinya negosiasi antara dua pihak dengan merangkum disiplin ilmu terkait seperti psikologi dan matematika. Studi ini kemudian terbagi menjadi 2 kerangka pikir, kerangka pikir secara konstektual yang bersifat statis serta kerangka pikir tentang negosiator yang bersifat dinamis.Kerangka konstektual adalah hal-hal yang pasti ada dalam tiap negosiasi dan sifatnya statis, seperti keberadaan kepentingan dan power sedangkan kerangka dinamis sifatnya fluktuatif dalam mempengaruhi negosiasi, tergantung pada waktu dan sikon. Kerangka konstektual ini melibatkan game theory dimana di dalamnya terkandung pengaruh struktural seperti power, deadline dan potensi integratif. Selain itu kerangka konstektual juga menggunakan agency theory dimana jumlah pihak yang terlibat dan pihak ketiga menjadi bahan analitis . Kerangkan konstektual ini kemudian berinteraksi dengan pola dinamis seperti pemahaman negosiator yang meliputi perencanaan, pemrosesan informasi, sikap dan perbedaan individu yang kemudian melalui tahapan proses interaksi. Dalam proses interaksi ini terkandung taktik pengaruh dan taktik komunikasi yang mempengaruhi hasil negosiasi.

Hausken sebagai penulis mempunyai 4 kritik terhadap teori ala Neale dan Northcraft ini yang intinya penggunaan konsep yang terlalu statis dan usang seperti lebih preskriptif daripada deskriptif sehingga tidak menjelaskan tentang apa sebenarnya dilakukan oleh negosiator tetapi lebih kepada apa yang seharusnya dilakukan oleh negosiator.

Bagian dinamis dari game theory merupakan inti dari negosiasi. Hausken membuat kerangka baru yang integratif dengan menggabungkan konsep strategis (game theory) dan behavioral negotiation theory dan membuat 8 parameter baru. Kemudian parameter-parameter ini dibagi ke dalam 3 kelompok. Kelompok pertama menyinggung strtuktur statis yang mempengaruhi pengaruh struktural (power,deadline,potential integrative). Kelompok kedua mempengaruhi struktur interaksi dan kelompok ketiga adalah pemahaman tentang game theory. Pengaruh struktural dan sruktur interaksi saling mempengaruhi melalui pemahaman tentang game theory yang pada akhirnya mempengaruhi hasil negosiasi.

Kedelapan parameter yang kemudian tereduksi ini mempunyai keuntungan dan kerugian. Keuntungannya terletak pada penggunaan perhitungan matematis melalui grafik dan tabel yang dapat memperjelas analisis. Namun perhitungan matematis ini memiliki kerugian karena mengabaikan aspek perilaku. Penggunaan teori manakah yang lebih tepat, game theory ataukah behavioral negotiation theory tergantung pada situasi negosiasi. Jika negosiasi melibatkan kadar emosi yang tinggi dan isu yang dibahas tidak terlalu teknis, maka pendekatan behavioral lebih disarankan. Tetapi jika kondisi menunjukkan ciri yang sebaliknya, maka game theory dapat dijadikan alternatif. Namun tidak berarti bahwa behavioral berdasar emotion-based, keduanya merupakan decision-based namun behavioral lebih menilai kepentingan lawan melalui perilakunya.

Mengapa pendekatan behavioral dapat digunakan untuk menganalisis negosiasi yang melibatkan kadar emosi yang tinggi? Karena pendekatan behavioral lebih menitikberatkan pada identifikasi pola perilaku negosiator daripada perhitungan secara matematis. Identifikasi ini dapat dilihat pada raut muka, bahasa tubuh, nada bicara maupun penggunaan kalimat-kalimat awal pada negosiasi tertulis. Dalam pendekatan ini, karakter asli negosiator sangat mempengaruhi pemahaman negosiator terhadap lawan dan isu yang dibahas sehingga secara tidak langsung juga mempengaruhi hasil negosiasi. Berbeda dengan pendekatan behavioral yang lebih menjelaskan apa yang sebenarnya dilakukan oleh negosiator, game theory menitikberatkan pada perhitungan matematis yang lebih fokus pada upaya untuk memaksimalkan hasil daripada menjelaskan perilaku itu sendiri.

Posted in Negosiasi | Leave a comment

Pengantar Ilmu Negosiasi

Negosiasi merupakan kosakata yang sudah sering kita dengar. Negosiasi merupakan proses yang sering sekali kita lakukan dalam hidup dan sering pula kita tidak sadar kalau kita tengah melakukan negosiasi. Untuk itu, perlu terlebih dahulu dijelaskan mengenai apa pengertian dari negosiasi berdasarkan kamus hukum dan beberapa pendapat ahli, yaitu sebagai berikut.

Pengertian negosiasi menurut ensiklopedi online wikipedia, adalah,

Negotiation is the process whereby interested parties resolve disputes, agree upon courses of action, bargain for individual or collective advantage, and/or attempt to craft outcomes which serve their mutual interests. It is usually regarded as a form of alternative dispute resolution.

Negosiasi menurut kamus hukum Black’s Law dapat dijabarkan sebagai berikut.

A consensual bargaining process in which the parties attempt to reach agreement on a disputed or potentially disputed matter. Negotiation usu. involves complete autonomy for the parties involved, without the intervention of third parties.

Negosiasi menurut Jaqueline M. Nolan-Haley adalah: “Negotiation may be generally defined as a consensual bargaining process in which parties attempt to reach agreement on a disputed or potentially disputed matterí.” Terjemahan bebasnya adalah: “Negosiasi dapat diartikan secara umum sebagai konsensual dari proses penawaran antara para pihak untuk mencapai suatu kesepakatan tetang suatu sengketa atau sesuatu hal yang berpotensi menjadi sengketa.”

Negosiasi menurut Suyud Margono adalah: “Proses konsensus yang digunakan para pihak untuk memperoleh kesepakatan di antara mereka.” Negosiasi menurut H. Priyatna Abdurrasyid adalah: “Suatu cara di mana individu berkomunikasi satu sama lain mengatur hubungan mereka dalam bisnis dan kehidupan sehari-harihnya” atau “Proses yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan kita ketika ada pihak lain yang menguasai apa yang kita inginkan”

Berdasarkan pengertian sebelumnya, negosiasi dipahami sebagai sebuah proses dimana para pihak ingin menyelesaikan permasalahan, melakukan suatu persetujuan untuk melakukan suatu perbuatan, melakukan penawaran untuk mendapatkan suatu keuntungan tertentu, dan atau berusaha menyelesaikan permasalahan untuk keuntungan bersama (win-win solution). Negosiasi biasa dikenal sebagai salah satu bentuk alternative dispute resolution.

Dengan demikian, secara sederhana disimpulkan negosiasi adalah suatu cara bagi dua atau lebih pihak yang berbeda kepentingan baik itu berupa pendapat, pendirian, maksud, atau tujuan dalam mencari kesepahaman dengan cara mempertemukan penawaran dan permintaan dari masing-masing pihak sehingga tercapai suatu kesepakatan atau kesepahaman kepentingan baik itu berupa pendapat, pendirian, maksud, atau tujuan.

Mengapa Perlu Negosiasi?

Negosiasi diperlukan dalam kehidupan manusia karena sifatnya yang begitu erat dengan filosofi kehidupan manusia dimana setiap manusia memiliki sifat dasar untuk mempertahankan kepentingannya, di satu sisi, manusia lain juga memiliki kepentingan yang akan tetap dipertahankan, sehingga, terjadilah benturan kepentingan. Padahal, kedua pihak tersebut memiliki suatu tujuan yang sama, yaitu memenuhi kepentingan dan kebutuhannya.

Apabila terjadi benturan kepentingan terhadap suatu hal, maka timbul lah suatu sengketa. Dalam penyelesaian sengketa dikenal berbagai macam cara, salah satunya negosiasi. Secara umum, tujuan dilakukannya negosiasi adalah mendapatkan atau memenuhi kepentingan kita yang telah direncanakan sebelumnya dimana hal yang diinginkan tersebut disediakan atau dimiliki oleh orang lain sehingga kita memerlukan negosiasi untuk mendapatkan yang diinginkan.

Kemampuan Bernegosiasi

Meskipun secara lahiriah manusia telah dibekali dengan kemampuan untuk bernegosiasi, namun untuk dapat bernegosiasi dengan baik, kemampuan dasar tersebut perlu dikembangkan. Adapun, beberapa kemampuan dasar untuk dapat bernegosiasi yang baik adalah sebagai berikut.

1. Kemampuan menentukan serangkaian tujuan, namun tetap fleksibel dengan sebagian diantaranya. Selain harus mampu mempertahankan serangkaian tujuan, dalam negosiasi, seorang negosiator harus mampu bersikap fleksibel dalam membaca keseimbangan atau perubahan posisi tawar yang terjadi selama negosiasi.

2. Kemampuan untuk mencari kemungkinan-kemungkinan dari pilihan yang banyak. Dalam hal ini, seorang negosiator harus jeli membaca kemungkinan dan memprediksi konsekuensi yang mungkin timbul dari masing-masing pilihan. Sebaiknya seorang negosiator sudah harus mampu memprediksi kemungkinan terbaik dan kemungkinan terburuk yang mungkin timbul.

3. Kemampuan untuk mempersiapkan dengan baik. Tidak ada negosiasi yang baik tanpa persiapan yang baik. Negosiator ulung selalu mempersiapkan segala sesuatu, mulai dari hal besar hingga hal kecil jauh sebelum pelaksanaan negosiasi. Namun, tak jarang, seorang negosiator harus mampu melakukan negosiasi pada saat yang tidak terduga.

4. Kompetensi interaktif, yaitu mampu mendengarkan dan menanyakan pihak-pihak lain. Menjawab lebih mudah dari memberikan pertanyaan yang baik, karena setiap jawaban lahir karena ada pertanyaan. Tanpa adanya pertanyaan yang baik, jawaban yang baik tidak bisa diharapkan.

5. Kemampuan menentukan prioritas. Dalam negosiasi, segala hal yang dinegosiasikan adalah penting, hanya saja seorang negosiator harus mampu memberikan prioritas kepada permasalahan yang ada, hingga tersusun dalam tingkatan prioritas.
Dengan memiliki kemampuan dasar tersebut, diharapkan negosiator sudah memiliki dasar pemikiran dan kemampuan untuk bernegosiasi. Selanjutnya, selain kemampuan dasar tersebut, seorang negosiator harus memiliki kemampuan berbicara (retorika) dan kemampuan memimpin (leadership) serta manajemen yang baik agar mampu menentukan alur negosiasi dan melangsungkan negosiasi hingga tujuan tercapai.

Tahap-tahap Negosiasi

Dalam pelaksanaan negosiasi sesungguhnya tidak ada standardisasi proses atau tahapan baku yang menjadi tolak ukur baik tidaknya negosiasi. Tahapan-tahapan negosiasi dapat berkembang dengan sendirinya tergantung pada permasalahan yang dihadapi. Meskipun demikian, secara umum proses bernegosiasi memiliki pola sama, yaitu sebagai berikut.

1. Persiapan. Pada tahap ini, negosiator mulai mengadakan kick off meeting internal untuk keperluan pengumpulan informasi relevan yang lengkap, pembentukan tim apabila diperlukan. Dalam rangka pembentukan tim, perlu diadakan “pembagian peran”, peran yang ada biasanya adalah:

a. Pemimpin tim negosiator dengan tugas memimpin tim, memilih dan menentukan anggota tim, menentukan kebijakan khusus, dan mengendalikan anggota tim lainnya.

b. Anggota Kooperatif yang menunjukan simpati kepada pihak lain dan juga bertindak hati-hati agar pihak lain merasa kepentingnnya tetap terlindungi. Peran ini seolah-olah mendukung penawaran pihak lain.

c. Anggota Oposisi yang bertugas untuk membantah argumentasi yang dilakukan pihak lain, anggota ini juga berusaha untuk membuka kelemahan dan merendahkan posisi tawar pihak lain.

d. Sweeper yang bertugas sebagai problem solver pemecah kebuntuan dalam negosiasi, dan bertugas menunjukkan inkonsistensi pihak lain.

Selain pembentukan tim, pada tahap ini perlu bahas mengenai strategi yang akan di lakukan, apakah rigid atau fleksibel atau keduanya. Strategi juga dapat tentukan berdasarkan kemampuan tim yang ada.

2. Proposal. Pada tahap ini, negosiator dapat memilih, apakah langsung melakukan penawaran pertama atau menunggu pihak lain yang mengajukan penawaran. Dalam tahap ini, negosiator sudah harus siap mempelajari kemungkinan-kemungkinan yang ada. Meneliti serta membaca strategi pihak lain adalah tepat jika dilakukan pada tahap ini.

3. Debat. Tahap ini merupakan tahap terpenting dalam suatu proses negosiasi. Dengan dilakukannya debat, kita dapat mengetahui seberapa jauh kepentingan kita bisa dipertahankan atau diteruskan dan seberapa jauh kepentingan pihak lain akan kita terima. Tahap ini diisi dengan argumentasi dari masing-masing pihak. Dari argumentasi tersebut dapat terlihat strategi dan fleksibilitas pihak lain.

4. Tawar menawar. Setelah diadakan proposal dan debat, negosiator mengadakan tawar menawar atas kepentingan pihaknya maupun pihak lain. Dalam tahap ini argumentasi sudah tidak terlalu diperlukan, yang diperlukan adalah fakta, data, dan kemampuan untuk mencapai tujuan negosiasi.

5. Penutup. Suatu negosiasi dapat berakhir dengan berbagai kemungkinan. Antara lain, negosiasi berhasil, negosiasi gagal, negosiasi ditunda, negosiasi dead-lock, para pihak walk-out, dan lainnya. Apabila negosiasi berhasil, direkomendasikan untuk membuat semacam memorandum of understanding (MoU) untuk keperluan para pihak menekan pihak lainnya untuk menjalankan kesepakatan hasil negosiasi (contract enforcement).
Latar Belakang Teori Negosiasi
Ada empat teori yang mendasari pembahasan mengenai negosiasi. Teori-teori tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Social exchange theory
Adalah suatu pandangan yang menjelaskan bahwa perubahan dan stabilitas sosial adalah suatu proses negosiasi antara pihak-pihak yang terlibat. Teori ini berkesimpulan bahwa seluruh hubungan antar manusia dibentuk dari analisa cost-benefit yang subyektif dan merupakan proses perbandingan antar alternatif. Misalnya, ketika seseorang melihat bahwa harga yang ia bayar untuk suatu hubungan melebihi manfaat yang diperolehnya, maka teori ini memprediksikan bahwa ia akan meninggalkan hubungan tersebut. Teori ini memiliki akar di ilmu ekonomi, psikologi serta sosiologi.

2. Conflict resolution theory
Adalah suatu proses mengenai cara menyelesaikan suatu konflik. Conflict resolution umumnya melibatkan dua kelompok atau lebih yang membahas isu tertentu, bisa juga ditambah dengan pihak lain yang memiliki opini netral terhadap subyek tersebut. Metode-metode resolusi konflik antara lain: rekonsiliasi, mediasi, arbitrasi dan litigasi.

3. Decision science atau biasa disebut decision tree
Adalah suatu metode dalam operation research atau decision analysis yang memanfaatkan gambar atau model keputusan dan kemungkinan-kemungkinan konsekuensi yang ditimbulkan, termasuk probabilitas terjadinya suatu event, biaya yang dikeluarkan serta utility.
Decision tree umum digunakan untuk keputusan investasi. Misalnya manajer akan mengambil keputusan untuk investasi pengembangan produk baru. Dengan data-data probabilitas, biaya dan profit yang dihasilkan, maka manajer akan mendapatkan keputusan produk mana yang paling tepat untuk berinvestasi.

4. Game theory
Game theory terdiri dari beberapa macam. Antara lain zero sum-game, prisoner’s dilemma dan battle of sexes. Game Theory adalah sebuah teori matematika yang berasal dari John von Neumann yang melihat strategi dan probabilitas sebagai fungsi dari permainan persaingan dimana semua pemain mempunyai peran kontrol parsial dan para pemain bersaing satu sama lainnya.
Teori ini mempelajari interaksi strategis antar pemain (“agen”). Dalam permainan strategis, suatu agen memilih strategi yang dapat memaksimalkan keuntungan, berdasarkan strategi yang dipilih agen lain. Intinya, teori ini menyediakan pendekatan permodelan formal terhadap situasi sosial mengenai bagaimana pelaku keputusan berinteraksi dengan agen lain.
Game theory dapat menjelaskan suatu paradoks yang cukup terkenal, yakni bagaimana orang bisa bekerjasama dalam masyarakat apabila masing-masing dari mereka cenderung berusaha untuk menjadi pemenang. Asal tahu saja, paradoks ini sempat menyusahkan Charles Darwin saat menyusun teori evolusinya itu. (Dan dengan demikian mematahkan satu lagi argumen bahwa teori evolusi tidak dapat dibuktikan secara matematis).

Dari berbagai SUMBER

Posted in Negosiasi | Leave a comment

Mind, Soul and Spirit

Tak bersayap, tak berakal…
terbang tinggi, riuh rendah, atau tenggelam…
namun tak mati…
setahuku, itu yang kau percaya!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Coretan2 Luka

Season I
1. Pada akhirnya semua akan terbiasa melaluinya,
dan kita hanya akan kembali pada satu titik yangg sejajar..

2. Setiap keberakhiran adalah awal keberadaan,
dan keberakhiran selalu ditemukan di awal keberadaan..

3.Tak ada yang abadi..
Tak ada yang kekal..
Semua keberadaan pasti akan musnah..

4.Jika semua keberadaan pasti akan musnah, maka keberadaan adalah tidak kekal dan abadi..
Bagaimana dengan pemilik keberadaan? Bukankah DIA-pun ADA.

Season II
1. Kebohongan mampu membunuh lebih cepat dari bisa ular!
Dusta membuat tangisan mengalirkan tangis yang teramat sangat deras,
dan pada akhirnya air mata akan berganti darah!

2.Lalu suatu saat kau akan membayar kebohongan itu!!!

3.Pada satu waktu…
dikehidupanku yang lain,
aku menjelma menjadi sang lain,
dan aku akan terus menerus mengejarmu,
hingga kau tak sanggup lagi untuk berlari.

4.Jika telah tiba saat itu, kau akan memohon padaku,
untuk segera membunuhmu, dengan cara yang sama!

Season III
1.Bila perlu,
akan kuminta satu tempat untuk kita berdua di neraka!
hanya kita berdua..

2.Agar kita tak mengotori surga karena dendam-dendam kita yang kini telah bernanah.

Season IV
1.Kita tahu, jalan pintas menuju surga adalah melewati neraka!

2.Karena surga adalah tujuan kita.

Sayang terbuang (lagi miskin ide untuk menulis note… hehehe)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Waria dan Posisi Dilematisnya di Masyarakat

A. Latar Belakang
Sepanjang sejarah berbagai masyarakat di Kepulauan Nusantara, konstruksi sosial gender senantiasa beraneka ragam, tidak melulu lelaki dan perempuan saja. Individu yang terlahir sebagai lelaki biologis tidak semuanya tunduk pada konstruksi gender lelaki secara sosial-budaya. Mereka memilih atau mengkonstruksi sendiri perilaku dan identitas gendernya, dan masyarakat pun dengan berbagai derajat penerimaan mengenali mereka sebagai banci (Melayu), bandhu (Madura), calabai (Bugis), kawe-kawe (Sulawesi umumnya), wandu (Jawa) dan istilah-istilah lainnya yang belum semuanya dikenali bahkan oleh para peneliti gender dan seksualitas pun, namun memang ada dan dikenali oleh masyarakat setempat. Belum lagi adanya orang-orang yang interseks, yang dalam derajat tertentu memiliki (sebagian) ciri-ciri kelamin biologis lelaki dan/atau perempuan dalam berbagai kombinasi, yang acapkali disebut juga dengan istilah-istilah tadi (Oetomo, 2006:2).
Seperti halnya di dalam kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan (secara umum) dan Makassar (secara khusus), ada orang-orang yang berkonstruksi gender yang tidak sesuai dengan kerangka hegemonik yang ditentukan oleh negara, agama, budaya, bahkan juga ilmu pengetahuan, yang hanya mengakui dua gender, yakni laki-laki dan perempuan. Konstruksi gender yang lain tersebut dapat kita kenali sebagai tomboy dan waria misalnya. Belum lagi identitas seksual lain yang tidak sempat kita kenali dan pada kenyataannya mereka ada serta berusaha bertahan hingga sampai sekarang ini.
Pendek kata, dapatlah dikatakan bahwa konstruksi gender dan seksualitas di masyarakat-masyarakat Nusantara maupun masyarakat Indonesia masakini adalah teramat kompleks dan beraneka ragam. Kaum ilmuwan, aktivis sosial, maupun anggota masyarakat sendiri, seringkali masih tidak tahu atau sengaja membisukan (karena berbagai alasan: moralitas, rasa risih, kemalasan berpikir) kenyataan yang rumit dan asyik ini (Oetomo, 2006:4-5). Mereka yang berpretensi menekuni bidang kajian gender pun cenderung hanya mewacanakan isyu-isyu perempuan dengan hampir secara kategoris melupakan kaum-kaum lain seperti waria dan gay misalnya sehingga pada akhirnya kajian gender di Indonesia menurut penulis hanyalah merupakan istilah lain untuk merujuk pada “kajian wanita” saja. Padahal kita tahu kajian gender tidak demikian dan teramat sangat luas cakupannya.
Salah satu gender yang cenderung diabaikan dalam masyarakat kita adalah kaum waria. Keberadaan mereka di tengah masyarakat kita kini bukan merupakan hal yang asing lagi. Meski tidak termasuk ke dalam salah satu identitas gender normatif, yakni laki-laki dan perempuan, namun hampir setiap orang pasti mengenal waria. Walaupun dalam pengertian yang sederhana, waria diketahui sebagai individu yang memiliki jenis kelamin laki-laki tetapi berdandan dan berperilaku seperti layaknya seorang perempuan (Atmojo, 1987:2-4). Lebih lanjut Atmojo berpandangan bahwa kehadiran waria sebagai bagian dari kehidupan sosial kita rasanya tak mungkin untuk dihindari. Meskipun demikian, kebanyakan dari anggota masyarakat belum mengetahui secara pasti apa itu waria. Kebanyakan dari kita hanya mengetahui dan dengan sepihak berpandangan bahwa menjadi waria adalah perilaku yang menyimpang dan menyalahi kodrat serta melanggar norma-norma agama.
Berperilaku menjadi waria selalu memiliki banyak resiko. Waria dihadapkan pada berbagai masalah, yakni penolakan secara sosial dan bahkan dianggap lelucon. Yang lebih disayangkan lagi, beban paling berat di dalam diri seorang waria adalah beban psikologis yaitu perjuangan mereka menghadapi gejolak kewariaannya terhadap kenyataan di lingkungan keluarganya. Perlakuan keras dan kejam oleh keluarga karena malu mempunyai anak seorang waria kerapkali mereka hadapi. Meskipun tidak semua waria mengalami hal seperti itu, tetapi kebanyakan keluarga tidak mau memahami keadaan mereka sebagai waria (Oetomo, 2003:290). Belum lagi bahwa kebanyakan anggota masyarakat mengasosiasikan waria dengan dunia pelacuran. Seperti kita tahu bahwa pelacuran dianggap sebagai sesuatu yang hina dan menjijikkan. Akhirnya, citra dunia pelacuran waria kemudian membuahkan pemikiran negatif pada masyarakat, yang selanjutnya berujung pada diskonfirmitas akan keberadaannya dalam beberapa faktor terutama penyempitan kesempatan kerja waria pada sektor formal (http://www.mail-archive.com/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/msg14167.html).
Penelitian-penelitian tentang waria sebenarnya telah banyak dilakukan oleh para peneliti dari berbagai kalangan, yakni kalangan jurnalis dan akademisi ilmu sosial (Lihat misalnya Atmojo, Koeswinarno, Soedijati dan Muthi’ah). Tetapi, penelitian tersebut dirasakan belum mampu meng-cover beberapa pertanyaan yang kemudian penulis merasa sangat penting untuk dijawab. Pertanyaan tersebut menyangkut bagaimana pengetahuan-pengetahuan dan strategi waria berkenaan dengan penerimaan masyarakat pada ruang-ruang sosial. Pertanyaan ini muncul karena adanya fakta bahwa sampai saat ini meskipun waria dianggap sebagai kelompok yang diabaikan dalam masyarakat bahkan cenderung ditolak dengan dasar dalil agama, namun mereka mampu bertahan hingga sampai sekarang dan penulis yakin mereka akan terus bertambah selama belum ditemukan cara (kalaupun ada) yang tepat untuk mencegahnya.
Selanjutnya, penulis melihat bahwa penelitian yang ada lebih banyak hanya mengeksplorasi latar belakang seseorang menjadi waria (Lihat Muthi’ah:123-128, 145-150, 163-169, 183-187) serta bagaimana tekanan sosial ketika seseorang hidup sebagai waria (Lihat Koeswinarno, 2004 : 149-152 dan Soedijati, 68-77 ). Adapun penelitian lain, misalnya penelitian yang dilakukan oleh Atmojo (1987) sebenarnya sedikit banyak telah mengeksplorasi kehidupan waria dari berbagai sisi, namun penelitian tersebut tidak dilakukan dengan menggunakan metodologi kualitatif. Peneliti lebih banyak menggunakan kuesioner dan dengan wawancara terbatas (karena peneliti adalah wartawan), sehingga data yang disajikan menempatkan hasil penelitian tersebut hanya sebagai pengantar untuk memahami kehidupan waria secara utuh jika ada peneliti lain yang tertarik untuk mengkaji kehidupan waria. Oleh karena itu, penelitian ini dimaksudkan untuk melihat dan mengkaji lebih dalam fenomena waria dengan menitikberatkan pada pengetahuan-pengetahuan dan strategi waria dalam menghadapi hambatan sosialnya. Penelitian ini diharapkan mampu menambah khasanah pengetahuan atas apa yang dirasa belum cukup dari berbagai penelitian yang telah ada sebelumnya.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Nadia (2005:48), diketemukan bahwa sebenarnya penerimaan waria di masyarakat seringkali terbagi menjadi 2 (dua) konteks, yakni penerimaan secara individual maupun komunitas. Konteks individual bergantung pada perilaku sosial sehari-hari yang direpresentasikan oleh seorang waria, lepas dari komunitasnya. Sedangkan pada konteks yang kedua, waria dipandang dalam konstruksi yang cukup historis. Di sinilah kemudian, di satu sisi waria senantiasa dipandang dekat dengan pelacuran, seks bebas, penyakit kotor. Namun di sisi lain, waria diterima hidup bersama di lingkungan karena kepentingan ekonomis atau pertimbangan lainnya.
Posisi dilematis waria yang ada di masyarakat selama ini membuatnya menjadi sosok kelompok sub-budaya yang ekslusif. Namun demikan, tak dapat dipungkiri jika seorang waria walaupun posisinya tersudutkan serta terisolasi dari kehidupan sosial, mereka tetap menjadi bagian dari masyarakat. Seperti anggota masyarakat lain, untuk bertahan hidup mereka tetap dituntut melakukan interaksi dengan masyarakat. Selain untuk kepentingan hidup bermasyarakat, hal tersebut dilakukan juga untuk menunjukkan memenuhi kebutuhannya akan pengakuan atas eksistensi dirinya serta kesempatan bergaul secara normal dengan masyarakat. Oleh karena itu, menjadi sosok waria di kota Makassar merupakan sebuah proses negosiasi terhadap lingkungan yang tiada akhir.
Akhirnya, melalui uraian dan ilustrasi di atas, maka penulis bermaksud melakukan penelitian dengan judul “Strategi Negosiasi Waria Kota Makassar Dalam Menghadapi Hambatan Sosial Masyarakat”.

A. Fokus Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah penulis paparkan diatas, tulisan ini berupaya untuk menguraikan bagaimana pengetahuan dan strategi negosiasi waria kota Makassar dalam menghadapi hambatan sosialnya di tengah masyarakat sehingga mereka dapat diterima dalam ruang-ruang sosial.
Agar penelitian ini lebih terarah dan sistematis, maka penulis bermaksud membatasi penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagaimanakah strategi negosiasi waria kota Makassar dalam menghadapi hambatan sosial masyarakat?
2. Bagaimana peran organisasi sosial kelompok waria kota Makassar dalam memperkenalkan citra positif kelompok waria terhadap masyarakat?

B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
a. Untuk menggambarkan bagaimana strategi waria dalam merepresentasikan dirinya pada ruang-ruang sosial sehingga mereka dapat diterima oleh masyarakat.
b. Untuk menggambarkan bagaimana cara mereka menegosiasikan identitas gender mereka dalam dunia sosial sehingga mereka dapat bertahan sampai sekarang.

C. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka manfaat penelitian ini adalah:
a. Dapat digunakan sebagai bahan kajian akademis dalam ilmu sosial terutama di bidang Antropologi Sosial.
b. Dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah (pemangku kebijakan) dan kalangan praktisi yang hendak mengeluarkan kebijakan/keputusan yang berkaitan langsung dengan isu seksualitas dan gender yang ada pada masyarakat Indonesia.

D. Kerangka Konseptual
Kehidupan manusia secara nyata selalu dapat tergambarkan dalam proses-proses sosial yang terjadi dan terdapat dalam masyarakat. Kita memahami bahwa setiap kehidupan manusia sebagai makhluk sosial, masing-masing individu lahir dengan kebutuhan reguler untuk menjalin hubungan. Kebutuhan tersebut dituangkan dalam komunikasi antarindividu, kelompok maupun organisasi. Dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, waria sebagaimana merupakan individu maupun kelompok juga tak lepas dari interaksi sosial dengan lingkungan sosialnya.
Gillin dan Gillin dalam Soekanto (2005:61) menyatakan bahwa interaksi merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Narwoko dan Suyanto (2007:57) menggambarkan bahwa proses sosial adalah setiap interaksi sosial yang berlangsung dalam satu jangka waktu sedemikian rupa, hingga menunjukkan pola-pola pengulangan hubungan prilaku dalam kehidupan masyarakat. Dijelaskan pula bahwa interaksi sosial dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu interaksi sosial yang asosiatif dan interaksi sosial yang disosiatif. Interaksi sosial asosiatif adalah apabila proses itu mengidentifikasikaan adanya “gerak dan penyatuan” sedangkan proses disosiatif adalah proses yang ditandai adanya suatu pertentangan atau pertikaian yang tergantung sekali pada unsur-unsur budaya yang menyangkut struktur masyarakat dan sistem nilai-nilainya.
Waria dalam hal ini merupakan salah satu bagian masyarakat yang mengalami proses sosial disosiatif. Kehadirannya ditengah-tengah masyarakat belum sepenuhnya dapat diterima secara total. Dalam lingkungan tempat tinggal, mereka terisolir dari keluarga dan teman bermain karena kondisi dirinya sehingga mereka terpaksa mencari teman yang senasib. Dalam laporan penelitian Soedijati (1995:62), waria bergabung dengan sesama waria sebagai upaya untuk mereka dalam mencari jati diri. Alasan lain mereka berkeinginan berkumpul dengan sesama waria adalah untuk menemukan teman yang memiliki tujuan yang sama dan keinginan untuk bebas bertindak. Sebab dalam lingkungan tempat mereka tinggal, perilaku seorang waria sangat dibatasi pada beberapa hal tertentu terkait dengan identitas seksualnya. Oleh karena itu, berkumpul bersama teman-teman waria lainnya akan menciptakan rasa aman bagi waria itu sendiri.
Senada dengan hal tersebut, Nadia (2005:46) mengungkapkan bahwa waria akan mencari teman atau populasi yang keadaannya serupa dengan diri mereka agar mereka dapat diterima dan dihargai sebagai individu yang utuh, sebagaimana layaknya individu yang normal. Tetapi selanjutnya timbul masalah lain yaitu pemenuhan kehidupan sehari-hari, sementara tidak semua waria memiliki bakat dan keterampilan yang memadai untuk bertahan hidup, sehingga cara yang mereka lakukan adalah menjajakan diri dalam dunia “cebongan” atau pelacuran (Nadia, 2005: 48). Demikian pula yang dikatakan oleh Sara (2007:26) bahwa kehidupan waria menjadi lebih terbatas dalam peran dimasyarakat, yang pada akhirnya menyebabkan banyak waria yang mengantungkan hidupnya dengan menjadi pekerja seks (melakukan jasa seksual), ngamen, atau yang berkutat di bidang kecantikan (salon), namun hanya beberapa orang saja yang memang beruntung bisa bekerja di salon atau punya salon sendiri.
Hal ini menjadi dilema tersendiri bagi waria. Karena di satu sisi, masyarakat tidak membuka kesempatan pendidikan, kehidupan yang layak dan pekerjaan bagi waria. Namun, di sisi lain seiring dengan menjamurnya prostitusi waria, pandangan masyarakat yang negatif sering ditujukan pada waria adalah bahwa waria identik dengan prostitusi. Meskipun fenomena waria menjadi penjaja seks dijalanan memang pada kenyataannya tak dapat dipungkiri. Namun seperti yang dipaparkan diatas, hal ini disebabkan karena belum sepenuhnya waria dapat diterima dalam kehidupan sosial. Masih sedikit sekali masyarakat yang mau dan bisa menerima keberadaan (seorang) waria. Kebanyakan masyarakat yang sudah bisa menerima waria karena sudah terbiasa melihat keseharian mereka, dimana ditempat itu ada komunitas warianya.
Masalah sosial yang kemudian akhirnya menjadi hambatan sosial tersebut dialami kaum waria meliputi hampir di seluruh aspek kehidupan sosialnya bahkan sampai pada hambatan kesempatan perlindungan hukum. Permasalahan kaum waria berkaitan dengan kondisi dirinya tersebut mengakibatkan renggangnya hubungan waria dengan lingkungan sosialnya. Soekanto (1986:394) mengemukakan bahwa masalah sosial merupakan suatu keadaan dimana cita-cita warga masyarakat tidak terpenuhi karena keadaan sosial dalam masyarakat. Keadaannya bisa bermacam-macam, salah satunya adalah kerenggangan sosial. Lebih lanjut lagi dikatakan bahwa masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial; atau menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga kelompok sosial tersebut, sehingga menyebabkan kepincangan ikatan sosial. Adapun Soetarno (1989:58) memberikan pengertian masalah sosial sebagai suatu masalah yang timbul karena adanya kebutuhan-kebutuhan sosial yang tidak atau belum terpenuhi. Kebutuhan-kebutuhan sosial yang tidak atau belum terpenuhi tersebut hanya dapat dicapai dengan cara melakukan negosiasi yang tiada henti dengan penganut kebudayaan lain.
Sebagai bagian dari masyarakat, waria senantiasa berhadapan dengan anggota masyarakat lainnya. Dalam masyarakat, ada banyak kebudayaan yang hidup dan berkembang. Dimana setiap kebudayaan memiliki sistem aturan dan normanya sendiri-sendiri. Seperti halnya yang diyakini oleh kaum relativisme budaya dalam Kaplan dan Manners (2002:6-7) yang menyatakan bahwa setiap budaya merupakan konfigurasi unik yang memiliki citarasa khas dan gaya serta kemampuan tersendiri. Oleh karena itu, mereka beranggapan bahwa tiada dua budaya pun yang persis sama. Sistem aturan dan norma tersebut seringkali dianggap sebagai sebuah masalah sosial ketika terjadi kontak dan tidak berkesesuaian dengan harapan sebagian warga masyarakat yang juga memiliki sistem aturan dan normanya sendiri. Namun, lebih lanjut dikatakan pula bahwa beberapa bagian-bagian tertentu dalam suatu budaya niscaya saling terkait secara fungsional. Inilah yang kemudian membuat dua kebudayaan yang berbeda dapat bertemu dan saling berkompromi untuk menegosiasikan dirinya masing-masing.
Oleh karena itu, kerenggangan ikatan sosial dan atau perbedaan kepentingan dalam masyarakat, yang dalam hal ini waria dengan warga masyarakat lain sejatinya menempatkan mereka untuk saling berkompromi atau bernegosiasi. Negosiasi diperlukan dalam kehidupan manusia karena sifatnya yang begitu erat dengan filosofi kehidupan manusia, dimana setiap manusia memiliki sifat dasar untuk berusaha mempertahankan kepentingannya yang mana pada satu sisi, manusia lain juga memiliki kepentingan yang akan tetap dipertahankan, sehingga, terjadilah kontak kepentingan dan bias jadi berbuah benturan. Padahal, kedua pihak tersebut memiliki suatu tujuan yang sama, yaitu memenuhi kepentingan dan kebutuhannya.
Mills (1993:7) berpendapat bahwa dalam negosiasi, kedua belah pihak mempunyai kepentingan yang sama dan kepentingan yang bertentangan. Oleh karena itu, dipercaya bahwa negosiasi hampir selalu akan dihadapi oleh setiap manusia, apalagi bagi sekelompok individu yang belum mendapatkan ruang yang cukup baik di tengah-tengah kehidupan masyarakat, seperti halnya kelompok waria. Negosiasi sesungguhnya merupakan unsur yang penting dalam menentukan sebuah kelompok atau individu dapat diterima dalam ruang-ruang sosial. Negosiasi juga merupakan proses atau upaya menggunakan informasi dan kekuatan ke dalam suatu jaringan yang penuh dengan tekanan (Prasetyono, 2007:38). Pengetahuan tersebut diupayakan akan menciptakan suatu solusi yang membawa pada terbentuknya masyarakat yang harmonis. Dapat dikatakan bahwa dalam kenyataannya negosiasi sangat diperlukan untuk meretas segala ketegangan sosial yang ada.
Menurut Koeswinarno (2004:155) seorang waria diterima atau ditolak di dalam masyarakat akan sangat ditentukan dari bagaimana mereka membangun negosiasi dengan masyarakat untuk menjadi bagian dari lingkungan sosial itu sendiri. Sehingga keputusan masyarakat untuk menolak atau menerima kehadiran waria, pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan seorang waria, baik secara individual maupun kolektif dalam merepresentasikan perilakunya sehari-hari. Dari penjelasan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa, segala hal hanya akan sangat bergantung pada pengetahuan dan strategi yang digunakan oleh waria dalam melakukan negosiasi. Oleh karena itulah penelitian ini akan berupaya untuk menemukan dan mencoba menggali bagaimana kemampuan negosiasi tersebut yang dimiliki oleh kaum waria yang ada di Makassar.
Kartono (1978:265), mengatakan bahwa istilah waria berasal dari kata “Wanita-Pria”, disamping itu mendapat sebutan lain seperti Wadam (Wanita-Adam). Kemudian Rowe (2007:9) menambahkan lebih jauh bahwa dalam “body politic”, pada umumnya mereka sering disebut dengan nama-nama yang remeh yang penuh dengan kesan-kesan negatif, contohnya “banci” dan “bencong”. Vernakular yang digunakan oleh waria untuk mengartikulasikan identitas mereka kebannyakan merupakan istilah-istilah yang berdasarkan kosakata dan teori-teori barat: yaitu gender, seksualitas, orientasi seksual dan lain-lain. Menurutnya, hal ini sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai sosio-seksual yang konservatif, dimana kata seksualitas dan hubungan seksual menjadi subyek-subyek linguistik yang tabu karena di dalam kebudayaan Indonesia, identitas seseorang adalah sesuatu yang tidak dipertanyakan atau dipahami sebagai konsep yang harus diartikan dan dimaknai secara sadar.
Dari sudut pandang psikologi ilmiah, waria ‘condong’ digolongkan pada gangguan identitas jenis (gender identity disorders). Gangguan ini ditandai dengan adanya perasaan tidak senang terhadap jenis kelamin. Dengan begitu, ia berperilaku seperti lawan jenisnya. Yang masuk dalam golongan ini antara lain adalah transeksualisme, gangguan identitas jenis masa anak-anak (pratran-seksualisme) dan gangguan identitas jenis tidak khas (Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa. Tim Direktorat kesehatan Jiwa, edisi II, cetakan pertama, 1985 halaman 223). Perasaan tidak suka pada jenis kelamin ini bukan karena alat kelaminnya terlalu kecil atau tidak aktif, sehingga si empunya tidak mendapat kepuasan, tetapi karena ia merasa alat kelaminnya tidak pada tempatnya. Dan perasaan tersebut terus selalu mengganggu, sehingga ada keinginan untuk menghilangkan ciri-ciri kelaki-lakiannya (kalau ia merasa perempuan), atau ciri kewanitaannya (kalau ia merasa laki-laki) (Atmojo, 1987:33). Di kalangan awam, tidak sedikit yang kemudian memahami atau mempertautkan waria dengan homoseks, seakan-akan waria identik dengan gay. Padahal, waria dan gay merupakan dua fenomena yang terpisah, betapapun dalam hal-hal tertentu keduanya masih dapat digolongkan sebagai penyimpangan seksual.
Kelainan seksual tersebut antara lain adalah parafilia. Kelainan ini ditandai dengan adanya ketidaklaziman pada obyek serta situasi seksualnya. Dalam taraf tertentu, penderita akan terhambat kemampuannya untuk melakukan hubungan seksual secara timbal balik. Penderita jenis ini juga memerlukan khayalan atau perbuatan yang tidak lazim untuk bisa bergairah. Umumnya, ia lebih menyukai pemakaian benda untuk merangsang dirinya sendiri. Dan tidak jarang melakukan hubungan seks dengan pasangan yang justru tidak menghendakinya. Adapun yang termasuk ke dalam golongan jenis ini antara lain sexual sadism, sexual masochisme, zoophylia, voyeurisme, fetishisme, pedophylia, exhibitionisme, dan transvestisme (Atmojo, 1987:35).
Salah satu kelainan di atas yaitu transvestisme sering disebut-sebut orang banyak menjelaskan soal waria. Karena orang yang menderita kelainan ini mendapatkan kegairahan dengan cara memakai pakaian lawan jenisnya. Namun, jika dilihat dari penggolongannya saja, jelas terdapat perbedaan antara transeksualisme dan transvestisme. Pada transeksualisme, identitas jenisnya yang terganggu, sedangkan transvestisme termasuk parafilia, obyek dan situasinya yang tidak normal. Penderita transeksual berpakaian wanita (jika laki-laki) atau berpakaian pria (jika dia wanita) karena merasa ada ketidak sesuaian antara fisik dan jiwanya. Tetapi pada transvestisme tidak begitu persoalannya. Penderita ini berpakaian lawan jenisnya justru untuk mendapatkan gairah seks. Dengan begitu, bisa saja penderita ini hanya sesekali memakai pakaian lawan jenisnya. Jelas sekali bahwa penderita transeksual ingin sekali menghilangkan ciri-ciri kelaki-lakiannya ataupun sebaliknya. Sedangkan pada transvestisme tidak perlu begitu. Misalnya, kalau dia laki-laki, dia tetap suka pada ciri kelaki-lakiannya, meskipun dia memakai rok. Ia tetap senang bisa bersenggama dengan wanita walau ada juga yang senang dengan sesama jenis. Dan meskipun memakai rok, mungkin saja ia tetap memasang kumisnya yang tebal. (Atmojo, 1987:36-37).
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua waria ingin atau telah menghilangkan ciri-ciri fisik kelaki-lakiannya. Seperti yang dikatakan oleh Sara (2007:25-26) bahwa kebanyakan dari teman-teman waria, masih banyak yang mengatakan bahwa mereka sudah cukup nyaman dengan kondisi fisiknya (masih punya alat reproduksi laki-laki) walaupun dalam keseharian mereka berpenampilan seperti seorang perempuan. Hal ini berbeda dengan seorang transeksualisme male to female/female to male) dimana ada ketidaknyamanan dan ketidakpuasan dengan biologisnya, gender maupun seksualitasnya. Sehingga ada beberapa atau (bahkan) kalau boleh dikatakan sedikit dari sekian waria yang melakukan operasi kelamin, yang pada akhirnya akan lebih senang dan puas jika disebut perempuan, seperti yang sudah dilakukan Dorce misalnya. Namun kemungkinan hal itu lebih banyak dikarenakan atas pertimbangan ekonomi. Operasi tersebut memang tidak murah, sedangkan penghasilan mereka rata-rata rendah.
Konsep lain yang dapat menjelaskan waria adalah konsep transgender. Didalam definisi sosiologi disebutkan bahwa waria adalah suatu transgender, dimana dari sikap atau perilaku maskulin berubah/merubah diri ke feminin dalam menjalani kehidupan kesehariannya, tanpa harus melakukan perubahan-perubahan yang mendasar pada kondisi fisiknya, termasuk melakukan operasi pada alat kelaminnya agar bisa menyerupai seorang perempuan (Sara, 2007:25). Dari konsep tersebut, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa kenyataannya ternyata tidak semua waria adalah transeksual tetapi semua waria adalah transgender. Ada waria yang transeksual dan waria yang a-transeksual.
Sebagai tambahan, indikator lain untuk dapat mengidentifikasi kaum waria adalah pergantian nama-nama. Kalau secara fisik laki-laki, umumnya mereka mengganti namanya dengan nama perempuan. Jelas ini adalah usaha penyesuaian dengan kondisi yang dirasakan. Dan sepengetahuan penulis, hampir semua waria telah melakukan hal tersebut. Mereka telah mengubah nama laki-lakinya menjadi nama perempuan sekalipun hal tersebut belum secara formal atau legal (terdaftar dalam dokumen/akta) (Atmojo 1987:40).
Dari uraian diatas, dapat dikatakan bahwa penelitian ini akan berupaya memahami dan mengkaji cara berpikir waria berkenaan dengan berbagai usaha dan strategi negosiasi yang mereka lakukan agar hambatan sosial yang hadir ditengah masyarakat dapat mereka lalui dan hadapi sehingga mereka dapat menjalani kehidupan sampai sekarang tanpa mengganggu eksistensi mereka secara substansial. Meskipun demikian, penelitian ini juga mencoba untuk mengkaji bagaimana kemampuan bertahan kelompok waria ditengah berbagai masalah dan hambatan sosial masyarakat.
Selain itu, peneliti juga bermaksud menggali beberapa informasi kepada masyarakat yang dalam hal ini juga merupakan salah satu sumber informasi berkenaan persepsi mereka terhadap kondisi gender waria. Penggalian informasi tersebut atas kepentingan analisis perbandingan persepsi, yakni antara waria terhadap identitas gendernya dan persepsi masyarakat terhadap kondisi gender waria. Dengan demikian, data yang didapatkan dapat menjadi suatu wacana yang komprehensif menyangkut anggapan atau kepercayaan masyarakat bahwa menjadi waria adalah sesuatu yang haram atau tidak, misalnya. Paling tidak, telah diasumsikan bahwa ada beberapa golongan dalam suatu masyarakat yakni ada golongan orang yang bisa menerima waria secara total, menerima waria secara setengah-setengah dan tidak menerima waria sama sekali. Perbandingan ini pula dapat membantu memberikan sedikit banyak penjelasan tentang hambatan sosial yang hadir di tengah-tengah masyarakat.

E. Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif, Bungin (2008;68) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat studi kasus, yang bertujuan untuk menggambarkan, meringkas berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada dalam masyarakat yang menjadi objek penelitian yang berupaya menarik realitas itu kepermukaan sebagai suatu ciri, karakter, sifat, model, tanda, atau gambaran tentang kondisi, situasi, ataupun fenomena tertentu.
Dalam format penelitian kualitatif ini, peneliti akan mengkaji bagaimana pengetahuan dan kemampuan waria berkenaan dengan strategi negosiasi menyangkut penerimaan masyarakat terhadap identitas gender mereka. Oleh karena itu, menurut Patton (Ahmadi, 2005;3) bahwa penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena yang sedang terjadi secara natural (alami) dalam keadaan yang sedang terjadi secara alami. Dengan menggunakan metode kualitatif yaitu berusaha untuk menghasilkan gambaran atau lukisan secara nyata, sistematis dan akurat sesuai dengan data dilapangan.
Pengumpulan data pada penelitian ini tidak bersifat kaku, akan tetapi senantiasa disesuaikan dengan keadaan atau fenomena di lapangan. Dengan demikian hubungan antara peneliti dengan apa yang diteliti tidak dapat dipisahkan, validitas data sangat ditentukan oleh penelitinya, oleh karena itu peneliti harus cermat, tanggap dan mampu memberi makna fenomena yang terjadi dilapangan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode kualitatif bersifat alamiah, induktif dan dapat digunakan untuk mengungkap dan memahami apa yang terletak di balik fenomena yang muncul dilapangan yang sulit untuk diungkap dengan metode kuantitatif.
Berdasarkan karakteristik tersebut, maka peneliti memilih jenis penelitian kualitatif dengan alasan;
1. Melalui penelitian kualitatif realitas yang terjadi dilapangan dapat terungkap secara mendalam dan mendetail.
2. Penelitian kualitatif dapat menemukan makna dari suatu fenomena yang terjadi dilapangan, karena sifatnya naturalis induktif dan diskriptif.
F. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Makassar yakni di tempat-tempat yang di identifikasi merupakan tempat kaum waria menetap dan bermukim, berkumpul atau membentuk organisasi.

G. Informan Penelitian
Penentuan informan dilakukan secara sengaja yaitu waria-waria yang masih bermukim di daerah Kota Makassar, serta warga masyarakat dilingkungan tempat waria tinggal yang mampu memberikan informasi mengenai masalah yang diteliti dengan asumsi bahwa informan tersebut memiliki pengetahuan tentang fenomena yang hendak didalami.

H. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara yang dilakukan peneliti untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan sesuai dengan fokus penelitiannya. Teknik pengumpulan data harus disesuaikan dengan metode penelitian dan fokus penelitian, sehingga mempermudah peneliti untuk memperoleh data yang valid. Menurut Bungin (2008;139) teknik pengumpulan data yang tepat untuk penelitian kualitatif antara lain adalah teknik wawancara mendalam (in-depth interview) dan observasi partisipasi (participant observer). Khususnya pada wawancara mendalam, teknik ini memang merupakan teknik pengumpulan data yang khas bagi peneliti kualitatif. hal ini sejalan dengan Paton (Ahmadi; 2005;57) bahwa cara utama yang dilakukan oleh para ahli metodologi kualitatif untuk memahami persepsi, perasaan, dan pengetahuan seseorang adalah wawancara mendalam dan intensif.
Berdasarkan tujuan penelitian, maka data yang dibutuhkan bersifat kualitaif. Untuk itu maka dalam penelitian ini akan digunakan teknik sebagai berikut :
a) Observasi
Observasi adalah suatu teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan terhadap fenomena tertentu sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Pengamatan yang dilakukan harus secermat mungkin sehingga dapat menghasilkan data yang valid, yang berarti bahwa hasil pengamatan sesuai dengan kenyataan yang menjadi sasaran penelitian.
Iskandar (2009:121) mengemukakan bahwa kegiatan observasi meliputi melakukan pengamatan, pencatatan secara sistematik kejadian, perilaku, obyek-obyek yang dilihat dan hal-hal lain yang sedang dilakukan. Pengamatan dimaksudkan untuk menghimpun berbagai fenomena yang berhubungan dengan aktifitas negosiasi waria seperti kegiatan-kegiatan sosial kelompok waria dan hal-hal lain yang merupakan perilaku negosiasi dalam memperjuangkan eksistensi dan citra positif terhadap masyarakat dimana mereka tinggal. Dalam pengamatan ini peneliti akan menggunakan catatan-catatan dan kamera sebagai alat dokumentasi observasi.
Pengumpulan data dilakukan langsung oleh peneliti dengan pertimbangan; (1) peneliti merupakan alat yang peka dan dapat bereaksi terhadap situasi dari lingkungan yang diperkirakan bermakna bagi peneliti, dan (2) peneliti sebagai alat yang dapat langsung menyesuaikan diri terhadap segala aspek yang diteliti dan dapat segera menganalisis data yang diperoleh.
b) Wawancara Mendalam (Indepth Interview)
Dalam penelitian kualitatif wawancara merupakan alat yang sangat dominan untuk mengumpulkan data, karena dengan wawancara, peneliti melakukan komunikasi langsung secara mendalam dengan informan. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh keterangan, pendapat secara lisan sekaligus dapat menarik makna dari keterangan yang dikemukakan informan.

I. Teknik Analisis Data
Analisis data pada penelitian kualitatif dimulai dari pengumpulan data sampai kepada penarikan kesimpulan penelitian. Oleh karena itu peneliti merupakan instrumen utama dalam penelitian. Data yang telah dikumpulkan setiap hari selama penelitian akan dibuatkan laporan lapangan, untuk mengungkapkan data apa yang masih perlu dicari, pertanyaan apa yang belum dijawab, metode apa yang harus digunakan untuk mendapatkan informasi baru, dan kesalahan apa yang perlu diperbaiki, serta data yang mana yang tidak diperlukan.
a) Reduksi Data
Data yang diperoleh dilapangan langsung diketik dengan rapi, terinci secara sistematis setiap selesai mengumpulkan data. Laporan lapangan direduksi, yaitu dengan memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan masalah penelitian, selanjutnya diberi tema dan kode pada aspek tertentu.
b) Pengambilan Kesimpulan
Sejak dimulainya penelitian, peneliti berusaha mencari makna dari data yang diperolehnya, sesuai dengan tujuan penelitian kualitatif yang dikatakan oleh Bungin (2005; 68) yakni untuk mencari ciri, karakter, sifat, model, tanda, atau gambaran tentang kondisi, situasi, dan hal-hal yang sering muncul. Maka ditarik kesimpulan, kemudian dilakukan verifikasi secara terus-menerus setiap kali memperoleh data baru, hingga kesimpulan yang diambil menjadi semakin jelas.

J. Pengabsahan Data
Dalam penelitian kualitatif, pengabsahan data merupakan salah satu faktor yang sangat penting, karena tanpa pengabsahan data yang diperoleh dari lapangan maka akan sulit seorang peneliti untuk mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya. Untuk melihat derajat kebenaran dari hasil penelitian ini, maka dilakukan pemeriksaan data, hal ini didasarkan pada pandangan Moleong (1990;179) yang mengisyaratkan bahwa “untuk menetapkan keabsahan data diperlukan pemeriksaan data”. Pengabsahan data dalam penelitian ini, maka akan dilakukan dengan melalui cara; (1) mendiskusikan dengan teman-teman mahasiswa S1 khususnya mahasiswa antropologi baik secara formal maupun nonformal atau mendiskusikan dengan para dosen antropologi fisip unhas, (2) dilakukan triangulasi dengan melakukan cross check dengan sumber data yakni membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara, (3) dilakukan pengamatan secara tekun, (4) dilakukan pengecekan terhadap temuan dilapangan. Selain itu mengecek apakah hasil penelitian ini benar atau salah sesuai dengan metodologi yang digunakan, dan peneliti selalu mendiskusikan dengan dosen pembimbing.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Ruslam. 2005. Memahami Metodologi Penelitian Kualitatif. Universitas Negeri Malang. Malang.
Atmojo, Kemala. 1987. Kami Bukan Lelaki. Cetakan Kedua. PT. Pustaka Utama Grafiti. Jakarta Utara.
Bungin, Burhan. 2008. Penelitian Kualitatif. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Iskandar. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Gaung Persada Press. Jakarta.
Koentjaraningrat, 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Cetakan Kedua. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Kaplan, David & Robert Manners. 2002. Teori Budaya. Cetakan Ketiga. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Koeswinarno. 2005. Hidup Sebagai Waria. Kanisius. Yogyakarta.
Kartono, Kartini. 2003. Patologi Sosial I. Penerbit Rajawali Pers. Jakarta.
Kompas. Com. 10 Mei 2007. Kaum Waria Tuntut Pekerjaan di Sektor Formal. Di akses pada tanggal 8 April 2010
Maleong, Lexy. 1998. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rusda Karya.
Mills, Harry A. 1993. Negosiasi Seni Untuk Menang. Binarupa Aksara. Grogol, Jawa Barat.
Muthi’ah, Dewi. 2007. KONSEP DIRI DAN LATAR BELAKANG KEHIDUPAN WARIA (Studi Kasus terhadap Waria di Kota Semarang). Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.
Nadia, Z. 2005. Waria Laknat atau Kodrat. Galang Press. Yogyakarta.
Narwoko, J. Dwi & Bagong Suyanto.2007. Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Prenada Media Group. Jakarta.
Oetomo, Dede. 2003. Memberi Suara Pada Yang Bisu. Cetakan Kedua. Pusaka Marwa Yogyakarta. Yogyakarta.
. 2006. Memperjuangkan Hak Asasi Manusia Berdasarkan Identitas Gender Dan Seksualitas Di Indonesia. Disajikan sebagai naskah presentasi pada Semiloka Hak atas Kebebasan Pribadi bagi Kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Interseksual, Transgender dan Transeksual. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Kuta, 15–16 Agustus 2006.
Prasetyono, Dwi Sunar. 2007. Seni Kreatif Lobi dan Negosiasi. Penerbit Think. Yogyakarta.
Rowe, Emily. 2007. Sekapur Sirih. Dalam Waria: Kami Memang Ada. PKBI DIY. Yogyakarta.
Sara, Yuni. 2007. Sudah Adakah Kesetaraan di Kelompok Waria?. Dalam Waria: Kami Memang Ada. PKBI DIY. Yogyakarta.
Soedijati, Elisabeth Koes. 1995. SOLIDARITAS DAN MASALAH SOSIAL KELOMPOK WARIA (tinjauan tentang sosiologis dunia sosial kaum waria di Kotamadya Bandung). Unit Penelitian dan Pengabdian Kepada masyarakat STIE. Bandung.
Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Posted in dilema, gender, seksualitas, wacana, waria | Leave a comment

Wanita-wanita Pencuci Mobil

A. Latar Belakang
Di Indonesia perhatian terhadap peningkatan peran perempuan dalam pembangunan jelas tercantum dalam GBHN TAP MPR RI (1993 : 106) yakni perempuan sebagai warga negara maupun sebagai sumber daya insani pembangunan mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam pembangunan di segala bidang. Sehubungan dengan hal ini, maka dapat dikatakan bahwa wanita sebagai warga negara seperti halnya laki-laki memiliki hak dan kewajiban untuk menyukseskan jalannya pembangunan. Dengan kata lain bahwa pernyataan yang tercantum dalam GBHN 1993, memberikan peluang kepada keberadaan kaum wanita dalam partisipasinya dengan melibatkan diri sebagai tenaga kerja.
Pesatnya pembangunan di negara Indonesia, saat ini berkorelasi positif terhadap peningkatan peranan wanita. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya jumlah wanita yang bekerja di berbagai bidang kegiatan, khususnya dalam kegiatan ekonomi. Sehingga keterlibatan kaum wanita didalam kegiatan perekonomian, dapat dipandang sebagai suatu kemajuan dan perkembangan yang dicapai oleh kaum wanita, sebab dalam lingkup kebudayaan diberbagai kelompok masyarakat khususnya di Indonesia, kaum wanita mempunyai status dan peranan sebagai istri dan ibu dengan tugas utama yaitu, melaksanakan pekerjaan didalam rumah tangga. Dengan kata lain bahwa keterlibatan kaum wanita dalam kegiatan perekonomian masyarakat merupakan suatu corak dari bentuk perubahan/pergeseran kedudukan wanita dalam sistem sosial dan budaya masyarakat. Dikatakan demikian karena peranan wanita dalam memberi sumbangan terhadap kesejahteraan keluarga dan perekonomian rumah tangga mencerminkan produktivitas dari pada wanita. Hal ini juga merupakan tuntutan yang harus dilalui oleh kaum wanita, disebabkan peran laki-laki sebagai kepala keluarga, semakin kewalahan dalam memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga untuk memenuhi kebutuhan keluarga tersebut maka wanita diberikan peranan dalam membantu suami atau keluarga untuk mencari nafkah dengan jalan melakukan pembagian kerja dalam lapangan perekonomian.
Dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang, sebenarnya tidak ada perempuan yang benar-benar menganggur. Biasanya para perempuan memiliki pekerjaan untuk juga memenuhi kebutuhan rumah tangganya entah itu mengelola sawah, membuka warung di rumah, mengkreditkan pakaian dan lain-lain. Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa wanita dengan pekerjaan pekerjaan tersebut bukan termasuk kategori wanita bekerja. Hal ini karena wanita bekerja identik dengan wanita karir atau wanita kantoran. Pada hal, dimanapun dan kapanpun wanita itu bekerja, seharusnya tetap dihargai pekerjaannya. Jadi tidak semata dengan ukuran gaji atau waktu bekerja saja.
Keterlibatan kaum wanita dalam kegiatan ekonomi atau adanya partisipasi wanita dalam angkatan kerja, pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, ekonomi dan budaya. Sebagaimana Bukit dan Bakir (dalam skripsi Herniawati Idris 1997 : 3) mengemukakan bahwa :
Tingkat partisipasi angkatan kerja wanita dipengaruhi oleh barbagai faktor demografis, sosial, ekonomi. Faktor-faktor ini antara lain adalah umur status perkawinan, tingkat pendidikan, daerah tempat tinggal (kota/desa), pendapatan dan agama. Pengaruh dari masing-masing faktor ini terhadap tingkat partisipasi angkatan kerja berbeda antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan.

Uraian konsep di atas, dapat diartikan bahwa keterlibatan wanita atau partisipasi angkatan kerja wanita dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dimana faktor-faktor ini mempunyai pengaruh terhadap tingkat partisipasi kerja antara kaum laki-laki dan kaum perempuan. Dengan kata lain bahwa terdapat perbedaan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan dalam hal partisipasi kerja. Sejalan dengan hal ini R. Fith (dalam Hasmah, 1997 : 51) menambahkan bahwa :perbedaan antara laki-laki dan perempuan pada dasarnya tidak hanya di identifikasikan menurut perbedaaan jenis kelamin maupun cara berpakaian dan bertingkah laku, tetapi juga tercermin pada perbedaan tugas mereka dilapangan perekonomian.
Dalam wujudnya sebagai tenaga kerja, tidak jarang kaum wanita menghadapi berbagai tantangan atau permasalahan yang bersifat tradisional dalam masyarakat, dimana posisi wanita sering ditempatkan sebagai kaum kelas dua setelah laki-laki. Mereka menganggap bahwa wanita adalah kaum lemah yang patut dilindungi dari lingkup pekerjaannya. Akan tetapi akhir-akhir ini kebanyakan kaum wanita tidak lagi menanggapi tanggapan yang bersifat negative tersebut tetapi malah sungguh-sungguh bekerja. Sejalan dengan hal ini Notopuro ( 1984 :30 ) mengemukakan bahwa adapun cara meningkatkan peran wanita khususnya dalam bekerja, dapat dilakukan dengan jalan membina kaum wanita untuk :
a) menyadari serta menghayati arti dan hakekat wanita itu sendiri, baik dipandang dari sudut alamiah, sosial, budaya serta agama. b) menghayati serta menyadari tugas wanita, hak dan kewajibannya, kedudukan dan perannya, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. c) mengamalkan, melaksanakan tugas serta memainkan perannya sesuai dengan kemampuan masing-masing dalam segala bidang kegiatan pembangunan bersama-sama dengan kaum pria mencapai cita-cita serta tujuan nasional menuju kejayaan dan kesejahteraan bangsa dan negara.

Dari penjelasan konsep di atas, dapat dilihat bahwa peningkatan peran wanita khususnya dalam bekerja ditentukan oleh nilai-nilai yang berlaku dan memungkinkan bagi seorang wanita untuk bekerja dan tetap mempertahankan martabatnya atau bahkan selalu bersaing antar kelompok dalam memperjuangkan martabatnya.
Peranan wanita sangat penting dalam kehidupan keluarga dan juga dalam memenuhi kebutuhan ekonomi sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa wanita memiliki peranan yang sejajar dengan laki-laki. Peranan wanita sebagai mitra yang sejajar dengan laki-laki dimaksudkan untuk memberi peluang berkarir bagi seorang wanita dan diharapkan agar kedudukannya sama seperti laki-laki tanpa harus menerima perlakuan diskriminasi. Dengan kata lain bahwa wanita sebagai tenaga kerja sama potensinya dengan tenaga kerja laki-laki dalam melakukan berbagai hal. Malah prestasi wanita terkadang lebih menonjol, misalnya pada bidang ketelitian lagi pula wanita biasanya memiliki naluri kepatuhan serta loyalitas, karena itu sangatlah keliru jika ada kalangan yang menyepelekan keberadaan wanita sebagai tenaga kerja.
Gejala sosial ekonomi yang melibatkan kaum wanita dalam berbagai sektor pencaharian hidup merupakan fenomena yang bukan hanya terjadi diberbagai kota-kota besar di Indonesia, tetapi juga sudah banyak terjadi di daerah Sulawesi Selatan khususnya dikota Makassar. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis tertarik dan berminat untuk memilih dan mengangkatnya sebagai bahan kajian dengan judul :
’’ Wanita-Wanita Pencuci Mobil di Kota Makassar’’

B. Rumusan Masalah

Untuk mengungkap permasalahan yang berkaitan dengan masalah wanita-wanita pencuci mobil tentunya akan melibatkan suatu permasalahan yang cukup kompleks. Oleh karena itu, untuk mengarahkan penelitian dan penulisan, maka dianggap penting untuk mengemukakan masalah-masalah pokok yang menjadi sasaran dalam penelitian ini. Oleh karena itu, penulis membatasi pokok-pokok permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana sikap dan pandangan wanita-wanita pencuci mobil terhadap jenis pekerjaannya ?
2. Faktor apa yang mendorong para wanita bekerja sebagai pencuci mobil ?
3. Bagaimana kondisi sosial ekonomi para wanita-wanita pencuci mobil ?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui dan menjelaskan sikap dan pandangan wanita-wanita pencuci mobil terhadap jenis pekerjaannya.
b. Untuk mengetahui faktor apa yang mendorong para wanita bekerja sebagai pencuci mobil
c. Untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi para wanita-wanita pencuci mobil
2. Kegunaan Penelitian
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berguna bagi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan sosial khususnya masalah peranan perempuan.
b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada pemerintah dalam membuat, mempertimbangkan, dan melaksanakan kebijakan yang berkaitan dengan pekerja wanita.
c. Sebagai salah satu syarat bagi penulis untuk menyelesaikan studi di Jurusan Antropologi.

D. Kerangka Konseptual
Pada awal kehidupan manusia yang ditandai dengan terbentuknya kelompok-kelompok kecil dengan kegitan utama berburu dan meramu, perbedaan peran laki-laki dan wanita telah tampak. Laki-laki berperan dalam kegiatan berburu sedangkan wanita berperan dalam kegiatan meramu. Perbedaan peran ini tidak mengindikasikan adanya ketimpangan atau perbedaan antara laki-laki dan wanita, namun lebih ditekankan pada peran reproduktif wanita.
Dalam kehidupan masyarakat dimasa sekarang ini, keterlibatan wanita dalam berbagai aktifitas baik dalam produksi barang atau jasa turut memberi andil bagi terselenggaranya keselarasan dalam kehidupan suatu rumah tangga. Dengan kata lain, keikutsertaan kaum wanita dalam kegiatan perekonomian baik disektor formal maupun informal, menunjukan bahwa pelibatan wanita dalam berbagai dunia kerja merupakan pencerminan peningkatan potensi sumber daya manusia (SDM) yang bertujuan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini juga menunjukan bahwa eksistensi wanita dalam suatu masyarakat memperlihatkan suatu dinamika yang senantiasa berjalan sesuai dengan perkembangan zaman dan kebudayaan tempat mereka berada. Sejalan dengan hal ini Maria T (1984 : 24) mengemukakan bahwa terdapat 2 (dua) alasan yang melatarbelakangi wanita bekerja yaitu :

1) wanita yang bekerja karena harus bekerja, dan
2) wanita bekerja karena memang memilih untuk bekerja.
Uraian konsep di atas, dapat diartikan bahwa terdapat dua hal yang melatar belakangi wanita bekerja. Hal yang pertama lebih menekankan pada kondisi wanita bekerja karena memang harus bekerja tanpa memandang jenis pekerjaan, selama mendapatkan upah demi memenuhi kebutuhan hidup. Alasan yang kedua biasanya dilatarbelakangi oleh berbagai alasan, seperti ingin menambah penghasilan, punya penghasilan sendiri, sekedar mengisi waktu luang ataupun mengaktualisasikan diri serta mempraktekkan ilmu yang mereka dapatkan selama mengenyam pendidikan.
Dalam kaitannya dengan tenaga kerja wanita, kontribusi dan kondisi kerja wanita pada dasarnya banyak mengalami hambatan terutama dalam mencari pekerjaan, hal ini disebabkan karena dalam hal pendidikan dan keterampilan, kaum wanita masih dipandang lebih rendah atau lebih dibawah dari pada laki-laki, sehingga menyebabkan banyak kaum wanita mencari mata pekerjaan lain yang tidak membutuhkan keterampilan. Sejalan dengan hal ini Hardyastuti (1991 : 20) menemukan adanya peningkatan kegiatan pada sektor informal, seperti menjadi penjahit, buruh cuci, menjajakan makanan, buruh bangunan dan sebagainya. Lebih lanjut Hardyastuti (1991 : 21) menjelaskan bahwa meningkatnya keterlibatan pekerja wanita pada sektor informal dipengaruhi beberapa hal yaitu :
1) Wanita merupakan angkatan kerja cadangan yang sewaktu-waktu dapat digunakan karena alas an kemiskinan. 2) banyaknya perempuan berusia dibawah 20 tahun yang masuk kepasar kerja menunjukan bahwa mereka banyak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang atas. 3) banyaknya perempuan yang berusia 30 tahun ke atas yang masuk ke angkatan kerja merupakan indikasi adanya perubahan didalam rumah tangga, boleh jadi wanita mendapatkan beban baru dalam rumah tangganya yaitu selain harus mengurus rumah tangga mereka juga harus mencari pendapatan tambahan bagi keluarganya. 4) peningkatan angkatan kerja wanita pada sektor informal menunjukan bahwa wanita pada dasarnya ingin masuk kepasar kerja karena persoalan ekonomi.

Berdasarkan uraian konsep di atas, dapat dilihat bahwa terdapat beberapa hal yang menjadi indikasi keterlibatan wanita pada pekerjaan di sektor informal yaitu wanita sebagai tenaga kerja cadangan, berpendidikan rendah, berperan gandah dan berkaitan dengan motivasi kerja yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Timbulnya keinginan seorang wanita untuk menekuni pekerjaan atau kegiatan produktif di luar rumah sangat erat kaitannya dengan faktor-faktor yang menjadi pendorong bagi mereka. Sejalan dengan hal ini Maria T (1984 : 52) mengemukakan bahwa motivasi seorang wanita untuk bekerja sehingga meninggalkan rumah tangga dan keluarganya untuk waktu tertentu yaitu :
1) Untuk menambah penghasilan keluarga. 2) untuk ekonomis supaya tidak tergantung pada suaminya. 3) untuk menghindari rasa kebosanan atau untuk mengisi waktu kosong. 4) karena mempunyai minat dan keahlian yang ingin dikembangkan atau dimanfaatkan. 5) untuk memproleh status dan 6) untuk pengembangan diri.

Dalam studi pekerja wanita, bekerja tidak hanya berupa pertukaran tenaga dan uang atau barang, tetapi juga menyangkut peran-peran wanita dalam sistem produksi. Sejalan dengan hal ini Pujiwati, S (1983 :25) menyatakan bahwa :
Wanita juga bisa menjadi pencari nafkah bagi keluarga disamping perannya untuk beranak, hamil dan menyusui. Dengan demikian peran produktif wanita harus dinilai berdasar pada nilai produktifitasnya dan bukan status wanita masyarakat yakni kerja wanita hanya sebagai tambahan kerja suami.

Uraian konsep di atas, mengindentifikasikan bahwa produktifitas wanita harus dinilai berdasarkan peran domestik dan peran produktifnya,. Dengan kata lain peran seorang wanita dalam keluarga sangatlah besar karena dapat melaksanakan peran reproduktif sekaligus peran produktif, di banding laki-laki yang hanya cenderung melaksanakan peran produktifnya saja. Lebih lanjut Pujiwati, S (1983 : 31) mengemukakan bahwa di pedesaan misalnya, umumnya wanita mempunyai 2 (dua) peranan yaitu :
1) Sebagai istri dan ibu rumah tangga yang baik. Mereka melakukan pekerjaan rumah tangga yang tidak menghasilkan pendapatan secara langsung tetapi yang memungkinkan anggota keluarga lain melakukan kegiatan mencari nafkah. 2) Sebagai pembantu untuk mencari nafkah kehidupan keluarga sehari-hari.

Berdasarkan uraian konsep di atas, dapat dilihat bahwa dalam pengelolaan rumah tangga tersebut, peranan seorang istri dan ibu rumah tangga sangatlah penting dalam mengelola dan mengatur ekonomi rumah tangga, dimana pendapatan yang dihasilkan oleh suami atau anggota keluarga yang lain, misalnya pendapatan anak harus dapat dikelola sebaik baiknya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun apabila pendapatan suami/ anggota keluarga yang lain tidak mencukupi, maka seorang istri dapat melaksanakan peran produktifnya untuk membantu menambah pendapatan dengan tidak mengabaikan peran reproduktifnya. Dengan demikian maka pembatas sosial dan budaya yang hanya melihat peranan wanita sebagai istri dan ibu rumah tangga yang baik dan untuk reproduksi perlu diubah sebab perempuan juga aktif dalam kegiatan produksi untuk mencari nafkah. Sejalan dengan hal ini Maslow (dalam Rabihatun Rauf 2008 : 4) mengatakan bahwa seseorang dalam perkembangan hidupnya mempunyai 5 (lima) tingkatan kebutuhan yang ingin dipenuhi yaitu :
1) Kebutuhan fisik atau kebutuhan dasar seperti makan, minum, tidur, dan seks. 2) kebutuhan akan perasaan aman baik fisik maupun emosi. 3) kebutuhan sosial yaitu menjadi bahagian dan dibutuhkan oleh masyarakat. 4) kebutuhan untuk mendapatkan status kekuatan baik dari diri sendiri maupun dari orang lain, dan 5) kebutuhan akan kemandirian (self aktualization).

Berdasarkan uraian konsep di atas, dapat dilihat bahwa seseorang dalam perkembangan hidupnya mempunyai tingkatan kebutuhan yang ingin dipenuhi. Dengan dasar itulah maka, seseorang senantiasa selalu dituntut semaksimal mungkin untuk berusaha dan berbuat seoptimal mungkin agar tingkatan kebutuhan tersebut dapat terpenuhi.
Keterlibatan pekerja wanita, khususnya di sektor informal pada dasarnya mampu memberikan kontribusi pada pendapatan keluarga, bahkan seringkali pekerjaan yang dijalankan oleh pekerja wanita tersebut menjadi sumber penghasilan terbesar bagi keluarga. Dengan kata lain, bahwa keluarga mereka sering kali tergantung penuh pada pekerjaan yang dilakoni wanita. Hal ini menunjukan bahwa wanita mempunyai peran dalam perekonomian keluarga, masyarakat dan pada akhirnya pembangunan. Senada denga hal ini Pujiwati, S (1983 : 15) menyatakan bahwa :
Untuk mengetahui kontribusi pekerja perempuan bagi pendapatan keluarga dari sektor informal dapat dilihat melalui pendekatan alokasi ekonomis, yaitu dengan berdasarkan pendapatan yang diperoleh dari sektor informal dan pengeluaran yang diperuntukan bagi keperluan kegiatan usaha tersebut.

Uraian di atas, menunjukan bahwa pekerjaan pada sektor informal yang dilakoni wanita dianggap potensial untuk menghasilkan pendapatan, tanpa harus meninggalkan tugas mereka mengurus rumah tangga. Kegiatan disektor informal dipandang memungkinkan bagi perempuan untuk memulai dan menghentikan kegiatan tersebut sesuai dengan kebutuhan keluarga, sehingga tugas-tugas rumah tangga dapat tetap mereka jalankan. Sektor yang mereka masuki sangat terkait dengan usia, status perkawinan, jumlah tanggungan, usia anak, tingkat pendidikan pekerja, serta pendidikan suami. Dengan kata lain bahwa walaupun manusia dengan mahluk lainnya hampir menghadapi masalah yang sama dalam menjalani kehidupan namun manusia lebih mampu dan jauh lebih baik karena manusia memiiliki kebudayaan, dimana pada dasarnya kebudayaan adalah suatu mekanisme adaptif yang digunakan manusia untuk memepertahankan kelangsungan hidupnya.

E. Metode Penelitian
Metodelogi penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dimana data yang diperoleh berasal dari lapangan dengan melakukan pengamatan dan wawancara mendalam dengan informan yang tahu dan mengerti tentang permasalahan yang diteliti.
Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Deskriptif (Descriptive Research), yaitu penelitian yang menggambarkan atau melukiskan situasi tertentu berdasarkan data yang diperoleh secara terperinci sesuai permasalahan yang ditetapkan dalam penelitian ini.

1. Teknik Pemilihan Lokasi
Lokasi penelitian ini ditentukan dengan sengaja (purposive) berdasarkan apa yang akan dicapai sesuai judul penelitian ini. Lokasi penelitian ini ditentukan secara sengaja yaitu di Kelurahan Jongayya Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Hal ini berdasarkan hasil observasi atau pengamatan sebelumnya bahwa ternyata di Kelurahan Jongayya Kecamatan Tamalate Kota Makassar merupakan lokasi kerja dan tempat berdomisilinya para wanita-wanita pencuci mobil.

2. Teknik Pemilihan Informan
Untuk mengumpulkan data ditentukan para informan yang akan memberikan informasi mengenai masalah yang akan diteliti. Penentuan informan dilakukan secara sengaja yaitu wanita-wanita pencuci mobil yang bekerja dan tinggal di Kecamatan…………. Kota Makassar, serta orang-orang yang mampu memberikan informasi mengenai masalah yang diteliti.

3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas :
a. Studi Pustaka (Library Research)
Yaitu suatu teknik penelitian yang dilakukan dengan membaca dan mempelajari buku-buku dan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan permasalahan penelitian ini. Studi pustaka ini dilakukan untuk membantu penulis memperdalam pengetahuan tentang masalah yang akan diteliti dan teori-teori serta konsep-konsep untuk menganalisis permasalahan dan juga sebagai penambah wawasan penulis.
b. Studi Lapangan
Yaitu suatu cara pengumpulan data yang dilakukan dengan jalan terjun langsung dilokasi penelitian, dalam studi lapangan ini digunakan dua teknik pengumpulan data yaitu :

1. Pengamatan (Observasi)
Yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan secara langsung pada obyek yang akan diteliti, dengan harapan untuk lebih menjamin kebenaran atau validitas data dan informasi yang diperoleh dari informan melalui wawancara dan hal-hal lainnya yang dapat lebih memperinci data-data sesuai dengan fokus penelitian.
2. Wawancara Mendalam (Depth Interview)
Yaitu suatu pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab secara mendalam dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan rumusan masalah penelitian.

F. Komposisi Bab
Penulisan ini terdiri dari 5 (lima) bagian yang akan memaparkan rincian-rincian yang tersusun dalam bab-bab sebagai berikut :
BAB I :Membahas tentang pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kerangka konseptual, metode penelitian.
BAB II :Berisi tentang tinjauan pustaka yang berkaitan dengan judul yang dibahas yaitu :Wanita-wanita pencuci mobil di kota Makassar
BAB III :Membahas tentang gambaran umum lokasi penelitian.
Bab IV :Memuat tentang hasil penelitian dan pembahasan.
Bab V :Penutup, memuat tentang kesimpulan dan saran-saran

DAFTAR PUSTAKA

GBHN TAP MPR RI 1993. BAB III (Tujuan Pembangunan Nasional)
Hardyastuti. 1991. Pekerja Wanita pada Industri Rumah Tangga Sandang di Daerah Istimewa Jogyakarta. Yogyakarta, Anggota IKAPI.
Hasmah, Dra. 1997. Profil Pekerja Wanita di Kota Madya Makassar (Studi Kasus Buruh Wanita di PT. GIMEX, Co). Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Direktorat Jenderal Sejarah dan Nilai Kebudayaan.
Idris, Herniawati. 1997. Integrasi Sosial Budaya di Kalangan Pekerja Wanita pada PT. Peliud di Kabupaten Luwu. Skripsi (Tidak diterbitkan) Fisip Unhas, Makassar.
Moleong, Lexy J. DR. MA. 1997, Metode penelitian kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Notopuro, Hardjito. SH. 1984. Peranan Wanita Dalam Masa Pembangunan di Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Rauf, Rabihatun. 2008. Angkatan Kerja Wanita ( Kasus Tiga Kota di Sulawesi Selatan, Rayhan Intermedia, Makassar.
S. Pujiwati. 1983. Peranan Wanita Dalam Perkembangan Masyarakat Desa, Jakarta : Yayasam Ilmu-ilmu Sosial.
T. Maria. 1984. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Wanita Dalam Kegiatan Ekonomi, Ujung Pandang Unhas.

SUMBER: Antropologi Fisip UH-Ruslin Angsar

Posted in pekerja, wanita | Leave a comment

Surat untuk Putri…

Pada suatu ketika, disore sunyi, tepat langit sedang merah merekah indah seolah-olah menyentuh dan menyekap wajahku dengan sinarnya. Aku tertegun. Sentuhannya teramat nyata, tak ada kata yang sempat keluar… Hingga kuakui aku tak ingin meninggalkan sore ini, sore yang langka, satu-satunya sore dengan senja tanpa kelabu. Mungkin… Namun sore ternyata harus meninggalkanku, perlahan-lahan. Lalu menghilang, sekejap!
Begitulah sang waktu. Meskipun indah, kita tak bisa menolak mereka akan meninggalkan kita. Mereka akan pergi. Entah kapan kita memiliki kesempatan untuk kembali bertemu dengannya… Walaupun kita terus menghujat waktu, sekasar-kasarnya, sekencang-kencangnya, mereka tak bisa mendengar… Dan pada akhirnya, tangisan hanya menjadi jawaban…

Seperti isi surat-suratku untuk putri pisces;

Mahmed:@Naz
“Langit tidak pernah bisa runtuh,
apalagi hanya karena keangkuhannya!

Tahukah kamu, dia hanya secuil cerita di hidupmu,
dia hanya anggukan kecil di ikrar lawasmu,
lalu?? tunggu apalagi??
Berlarilah!!!
Tinggalkan dia!!
eits!!! jangan pernah mencoba melambai kepadanya…
itu saja”.

Naz:@Mahmed
“Benar bukan karenanya langit runtuh,
atau “karena-karena” yang kau sebutkan dulu,
tapi karena kejahatannya mengkhianatiku,
langit tak menyukai pengkhianatan,
sebab langit tercipta dari bangunan cinta dan kepercayaan…

Alangkah berdukanya dia melihat perbuatan2 tak hebat,
alangkah kecewanya dia menyaksikan kebodohan2 yang disengaja,
itu yang membuatnya tak bisa lagi bertahan menopang matahari,
itu yang membuatnya runtuh!!!
karena tak ada lagi yang bisa dipercaya…”.

Mahmed;@Naz
“Lalu mengapa tak rela kau lepas??
jika kau tahu dia seperti itu??
aku percaya kau bisa…”.

Naz:@Mahmed
“Sebab hanya dia yang ku punya…”

Mahmed:@Naz
“Kalian sama saja!!!”.

Posted in putri, Surat | Leave a comment

Sebuah Makalah Seksualitas

MEMPERJUANGKAN HAK ASASI MANUSIA
BERDASARKAN IDENTITAS GENDER DAN SEKSUALITAS DI INDONESIA*
Oleh Dédé Oetomo
Pendiri dan Anggota Dewan Pembina, Yayasan GAYa NUSANTARA
doetomo@gmail.com

Kompleksitas Seks, Gender dan Seksualitas: Perspektif Teoretik
Ilmu pengetahuan biomedik maupun psikososiokultural makin lama makin paham akan kerumitan dan keanekaragaman seks (biologis), (identitas dan ekspresi) gender dan seksualitas (orientasi, pilihan, ekpresi atau tindak/perilaku seksual) kita manusia. Sekarang kita tahu bahwa kita tidak hanya dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan saja, tetapi juga sebagai berbagai tipe interseks, dan bahwa pembagian ketiganya pun tidak selalu rapi. Namun karena dominasi binerisme dalam ilmu pengetahuan biomedik modern, banyak bayi atau anak yang seks biologisnya tidak dengan segera dapat ditentukan adalah laki-laki atau perempuan itu, acapkali tanpa memperhatikan haknya untuk menentukan nasib sendiri menjalani pembedahan atau pemberian hormon sehingga di belakang hari dapat menyebabkan keadaan yang merugikan mereka. Kita yang teliti mengamati manusia di sekitar kita juga sudah lama tahu bahwa tidak semua anak laki-laki tumbuh menjadi laki-laki dewasa, dan tidak semua anak perempuan besar menjadi perempuan dewasa. Sebagian menjadi waria, tomboi, sentul, andro, no label dll. Ilmu pengetahuan maupun gerakan hak asasi manusia (HAM) juga kian mantap dengan konsep identitas maupun ekspresi gender serta transgender(isme), yang mencakupi juga transeksual(itas) dan transvestit(isme).
Kita yang merasa diri laki-laki atau perempuan pun, apabila punya kecerdasan, kepekaan dan kebijakan untuk merenung atau berdialog dengan hati dan pikiran kita, niscaya sadar bahwa diri kita sebetulnya merupakan kombinasi yang tidak selalu stabil antara maskulinitas dan femininitas. Tak berlebihanlah yang mengatakan bahwa gender kita semua sebetulnya tidak stabil atau tetap, alias campur-campur (hibrid), berubah-ubah dengan berkembangnya kehidupan kita, cair, dan liminal atau dengan perkataan lain, kita semua sebetulnya transgender. Kita juga makin sadar akan kompleksitas seksualitas kita, apakah itu meli- batkan orientasi seksual, preferensi seksual ataupun ekspresi atau tin- dak/perilaku seksual. Alfred C. Kinsey, salah seorang perintis studi seksualitas, pada tahun 1948 dalam kajiannya Sexual Behavior in the Human Male, sudah menunjukkan bahwa orientasi seksual kita ada pada suatu skala tujuh titik antara heterosek-sualitas eksklusif (Kinsey 0) dan homoseksualitas eksklusif (Kinsey 6).
Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III (1993) terbitan Direkto-rat Kesehatan Jiwa, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan Republik Indonesia; Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV dari Ikatan Psi-kiatri Amerika (APA); dan International Classification of Diseases (ICD) 10 dari Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO), ketiga-tiganya menyatakan homo- seksuali-tas sebagai varian biasa dari seksualitas manusia, dan bahkan menganjurkan agar dalam kasus orang yang ragu-ragu akan homoseksualitasnya, psikolog dan psikiater mengarahkannya menjadi homoseks yang lebih dapat menerima diri.
Akan tetapi kesadaran cerdas mengenai ketiga aspek kemanusiaan kita itu belum menjadi bagian dari pengetahuan umum penyelenggara negara, pemimpin agama/adat ataupun masyarakat secara luas. Sebagian ilmuwan pun masih tidak mau tahu ataupun kalau sudah tahu tidak mau menerima fatwa ilmiah di atas, atas nama moralitas usang yang dianutnya tanpa berpikir jauh sebagai pengetahuan yang berterima. Sementara itu masyarakat dalam segala dinamikanya berkembang, sehingga muncul konstruksi-konstruksi sosial macam lesbi, gay, biseks, transgender (waria), metroseksual, hidup bersama tanpa nikah, selain konstruksi gender dan seksualitas yang lebih konvensional.

Kompleksitas Gender dan Seksualitas di Indonesia
Sepanjang sejarah berbagai masyarakat di Kepulauan Nusantara, konstruksi sosial gender senantiasa beraneka ragam, tidak melulu lelaki dan perempuan saja.1 Individu yang terlahir sebagai lelaki biologis tidak semuanya tunduk pada konstruksi gender lelaki secara sosial-budaya. Mereka memilih atau
mengkonstruksi sendiri perilaku dan identitas gendernya, dan masyarakat pun dengan berbagai derajat penerimaan mengenali mereka sebagai banci (Melayu), bandhu (Madura), calabai (Bugis), kawe-kawe (Sulawesi umumnya), wandu (Jawa) dan istilah-istilah lainnya yang belum semuanya dikenali bahkan oleh para peneliti gender dan seksualitas pun, namun memang ada dan dikenali oleh masyarakat setempat. Belum lagi adanya orang-orang yang interseks, yang dalam derajat tertentu memiliki (sebagian) ciri-ciri kelamin biologis lelaki dan/atau perempuan dalam berbagai kombinasi, yang acapkali disebut juga dengan istilah- istilah tadi.
Pada beberapa masyarakat adat, tidak saja penerimaan yang terjadi pada orang-orang yang menyeberang gender atau memadukan dua atau lebih gender dalam dirinya: ada pranata-pranata (institusi) yang secara signifikan melibatkan orang-orang macam itu, seperti bissu di masyarakat Bugis, yang dahulu menjaga dan memelihara arajang, pusaka kerajaan, di lingkungan istana, dan hingga kini
pun masih menjadi perantara manusia dengan para dewata, yang membantu Allah, Tuhan yang Esa; atau basir di masyarakat Dayak Ngaju, yang juga menjadi perantara antara dunia ini dengan dunia para arwah nenek-moyang; atau tadu mburake pada masyarakat Toraja Pamona, yang memimpin ritus-ritus spiritual; atau para seniman pertunjukan tradisional yang memerankan gender yang lain,
seperti pada ludruk di Jawa Timur. Secara lebih terbatas, umumnya karena androsentrisme (virisentrisme) dunia ilmu pengetahuan kita, kita kenal juga dengan konstruksi gender orang-
orang yang secara biologis perempuan, tetapi mengkonstruksi perilaku dan identitas gender yang sesuai atau lebih mirip konstruksi gender lelaki. Masyarakat Bugis mempunyai nama calalai untuk orang-orang macam ini, tetapi pada masyarakat-masyarakat lainnya, walaupun orang penyeberang gender macam ini
dikenal, tidak ada istilah yang dipakai untuk menyebut mereka. Kadang istilah seperti banci dipakai untuk menyebut orang-orang ini juga. Dalam budaya nasional kita pun dikenal identitas gender waria (wadam), dan sampai batas tertentu, tomboi. Sebagian masyarakat merancukan identitas
gender ini dengan identitas seksual macam homoseks/gay atau lesbi, dan memang acapkali terjadi tumpang-tindih antara identitas gender dan orientasi/identitas seksual seperti ini bahkan di kalangan waria maupun gay/lesbi sendiri. Belakangan ini ditengarai juga mulai timbulnya orang-orang beridentitas biseks, namun wacana sosial di seputar ini masih terbatas di masyarakat kita.
Menengok berbagai masyarakat adat, kita temukan juga hubungan seksual dan/atau emosional antarlelaki, baik di antara mereka yang sebaya maupun yang beda usia (transgenerasi). Apakah di Atjeh di kalangan ulëëbalang (umumnya dengan budak belian dari Nias) maupun di lingkungan perdagangan di pantai timur dan barat di masa lampau, di Minangkabau (induak jawi—anak jawi) dalam konteks kehidupan di surau, di Ponorogo (warok, warokan, gemblakan) dalam konteks ilmu kanuragan dan kesenian reyog, di pesantren-pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur (mairilan, amrot-amrotan) serta Madura (laq-dalaqan) dalam konteks kehidupan nyantri/nyantre, maupun di beberapa budaya Melanesia dalam konteks ritus inisiasi anak laki-laki, hubungan antarlelaki, dengan berbagai
pemaknaan sosial-budaya, memang ada, termasuk hubungan-hubungan “biasa” (artinya, tidak dalam konteks ritual tertentu) seperti di Jawa dan Bali, umpamanya. Yang signifikan adalah bahwa hubungan itu hampir senantiasa terjadi bersamaan dengan maupun disusul oleh pernikahan atau hubungan
dengan perempuan atau kadang-kadang juga individu semacam waria. Dalam budaya nasional kita, di mana dikenal pranata waria, juga cukup banyak lelaki yang menjalin hubungan seksual dan/atau emosional, baik kasual maupun lebih permanen, dengan waria. Dalam berbagai kasus anekdotal pun kita
temukan perempuan (baik yang beridentitas lesbi maupun tidak) yang menjalin hubungan dengan waria, baik dalam pernikahan sah (karena warianya dipandang lelaki oleh agama dan hukum) maupun di luarnya.
Kembali kiranya karena androsentrisme ilmu pengetahuan, belum banyak yang kita ketahui tentang hubungan antarperempuan dalam berbagai masyarakat adat kita. Pernah dicatat adanya warok perempuan dan gemblakannya di Ponorogo, namun tampaknya tidak banyak. Di dunia pesantren budaya Jawa dan Madura ditengarai juga ada hubungan antarsantri perempuan, yang disebut
dengan istilah musahaqah. Sebagaimana pada hubungan antarlelaki tadi, perlu dicamkan bahwa hubungan antarperempuan ini berjalan bersamaan dengan atau disusul oleh hubungan dengan gender lain, apakah itu dalam pernikahan atau tidak, dan unsur kesukarelaan acapkali tidak relevan, terutama untuk perempuan ini, mengingat sifat pernikahan yang cenderung masih didasarkan pada anggapan bahwa perempuan tidak sepatutnya berkehendak bebas dan seksualitas. Di masyarakat modern tentunya kita kenal hubungan seksual dan/atau emosional antarperempuan, baik oleh mereka yang mengenal konsep lesbi atau tidak. Ditengarai di kalangan perempuan yang bekerja di industri seks juga cukup banyak terjadi hubungan macam ini, yang baru sedikit dikenal oleh dunia ilmu
pengetahuan.
Pendek kata, dapatlah dikatakan bahwa konstruksi gender dan seksualitas di masyarakat-masyarakat Nusantara maupun masyarakat Indonesia masakini adalah teramat kompleks dan beraneka ragam. Kaum ilmuwan, aktivis sosial, maupun anggota masyarakat sendiri, seringkali masih tidak tahu atau sengaja membisukan (karena berbagai alasan: moralitas, rasa risih, kemalasan berpikir) kenyataan yang rumit dan asyik ini. Mereka yang berpretensi menekuni bidang kajian gender pun cenderung hanya mewacanakan isyu-isyu perempuan (dengan hampir secara kategoris melupakan kaum lesbi maupun kemungkinan perilaku biseksual, maupun acapkali enggan membahas perempuan dalam industri seks
dengan berbagai kompleksitasnya), sehingga akhirnya kajian gender di Indonesia hanyalah merupakan istilah lain untuk “kajian wanita,” serta tidak memproblematikkan maskulinitas. Konstruksi teoretis gender mereka pun umumnya tidak menangkap kemungkinan kompleks kecairan, kehibridan dan liminalitas gender. Orang-orang yang sama juga cenderung tidak memperhatikan seksualitas, selain dalam wujud perilaku reproduksi atau perkosaan dan tindak kekerasan lainnya. Juga kurang diperhatikan adalah kompleksitas berbagai dimensi hubungan seksual dan/atau emosional: perbedaan anatomi (termasuk difabilitas), kebangsaan dan etnisitas, kelas sosial, keterlibatan uang dan materi
lainnya, serta dimensi-dimensi relasi kuasa lainnya.2
Eksistensi dan Diskriminasi
Dengan latar atau dalam konteks yang kompleks macam itulah perjuangan menegakkan hak asasi manusia (HAM) berdasarkan (identitas atau ekspresi) gender dan seksualitas di Indonesia dilaksanakan.
Secara ringkas dapatlah dikedepankan bahwa di masyarakat kita ada orang-orang yang berkonstruksi gender yang tidak sesuai dengan kerangka hegemonik yang ditentukan oleh negara, agama, budaya, bahkan juga ilmu pengetahuan, yang hanya mengakui dua gender (tak kompleks): lelaki dan perempuan. Secara umum dikenal istilah waria dan tomboi, selain istilah-istilah setempat yang telah disebutkan tadi.
Kita yang konstruksi gendernya tidak sesuai itu dapat mengalami perlakuan yang diskriminatif, mulai dari kekerasan fisik (penganiayaan, ancaman pembunuhan, penggundulan atau yang lain) hingga kekerasan simbolik (pelecehan, pemaksaan untuk menyesuaikan diri dengan konstruksi gender yang
dianggap pantas untuk kita oleh mereka yang berkuasa di keluarga atau masyarakat). Perlakuan diskriminatif juga dapat terjadi ketika kita berhadapan dengan aparat negara: waria dan lelaki yang feminin (yang acapkali dianggap sama saja dengan waria oleh petugas) yang ditemukan di tempat umum dan diduga melakukan kerja seks dapat dirazzia (diobrak, digaruk), dan apabila
sampai dibawa ke tempat tahanan dapat dipaksa melakukan hubungan seks (biasanya oral) terhadap petugas. Paksaan melakukan hal ini dapat juga terjadi pada tahanan waria dalam perkara yang lain. Hubungan seksual dan/atau emosional yang kita jalin dengan sebagai waria dengan lelaki atau sebagai tomboi dengan perempuan tidak dapat dicatatkan sebagai perkawinan seperti hubungan
antara perempuan dan lelaki yang berniat mencatatkan perkawinannya. Kewariaan kita umumnya tidak dapat secara tegas dicantumkan pada kolom jenis kelamin di penanda identitas kita, kalaupun itu kita kehendaki dan penampilan kita memang menunjang. Akibatnya dapat terjadi kebingungan yang dapat
merugikan kita. Kadangkala keluarga memaksa kita untuk menjalani perkawinan heteroseks, yang dapat membawa akibat yang lebih jauh lagi. Diskriminasi serupa juga terjadi bagi kita yang beridentitas gay, lesbi atau biseks. Tidak semua dari kita dapat terbuka menyatakan diri di lingkungan
keluarga, sekolah, pekerjaan dan masyarakat pada umumnya, dengan akibat keadaan tertekan yang dapat terjadi seumur hidup. Dorongan yang kuat dari berbagai pihak untuk menjalani perkawinan heteroseks juga menjerumuskan banyak gay dan lesbi, serta istri/suami kita apabila kita mengikuti dorongan itu, dalam penderitaan yang tak berkeputusan sepanjang hidup.
Di ranah publik sering kita dengar larangan dan ancaman dari para pemimpin agama, yang tanpa berpikir panjang dan membaca lebih cermat teks- teks keagamaan dengan mudahnya menyatakan kita sebagai orang berdosa. Hal ini amat menyakitkan bagi kaum gay, lesbi, waria dan biseks di Indonesia justru karena banyak di antara kita adalah orang-orang beriman. Kebisuan, tidak adanya
pengakuan atau tidak dibicarakannya kita dalam kehidupan bermasyarakat juga merupakan perilaku diskriminatif. Media massa jarang membahas isyu-isyu yang penting untuk kaum gay, lesbi, waria dan biseks; kalaupun ada liputan, seringkali kita diperlakukan hanya sebagai objek aneh yang apabila diliput dapat meningkatkan tiras. Yang belakangan ini kian lantang terdengar adalah suara kaum interseks,
yang menuntut integritas tubuh anak atau remaja yang lahir dengan ciri kelamin primer maupun sekunder yang dianggap tidak sesuai dengan kelamin “normal”.
Mengorganisasi Komunitas Gay, Lesbi, Waria dan Biseks
Dengan latar represi terang-terangan maupun tersembunyi terhadap orang-orang gay, lesbi, waria, biseks dan interseks, diperlukan kepemimpinan yang kuat untuk berorganisasi dan menegakkan hak-hak kaum kita. Kaum waria adalah yang pertama kali berorganisasi pada akhir tahun 1960-an. Organisasi gay terbuka baru yang pertama di negeri ini, Lambda Indonesia (LI), baru muncul pada tahun 1982. Diduga pada saat yang hampir bersamaan muncul organisasi Persatuan Lesbian Indonesia (Perlesin).3 Perluasan gerakan gay (dan kemudian lesbi) Indonesia terjadi ketika perhatian media terfokus pada isyu-isyu di seputar homoseksualitas, khususnya dengan berdirinya GAYa NUSANTARA pada tahun 1987. Jumlah
organisasi meningkat dari hanya dua pada akhir tahun 1980-an menjadi lebih dari sepuluh pada tahun 1993, ketika Kongres Lesbian dan Gay Indonesia (KLGI) I diselenggarakan di Kaliurang, Yogyakarta.4
Sejak awal tahun 1990-an, wacana publik tentang HIV/AIDS, dengan sertaannya wacana tentang seksualitas, termasuk homoseksualitas, menjadi kian menonjol, sehingga dalam kaitan dengan aktivisme di seputar penyakit ini, berdiri juga beberapa organisasi gay di berbagai tempat di Indonesia.
Pada tahun 1996, Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang dideklarasikan pada bulan Juli tahun itu, dengan tegas menyatakan perjuangan menegakkan “hak-hak kaum homoseksual dan transeksual” dalam manifestonya. Dengan diresmikannya secara legal PRD pada tahun 1999, jumlah organisasi gay di
berbagai daerah juga meningkat. Seiring dengan makin terbukanya ruang demokratik sesudah Mei 1998, berbagai organisasi gay juga terlibat dalam kerja sama dengan kekuatan-kekuatan prodemokrasi lainnya dalam masyarakat kita. Pada Pemilu Legislatif 2004 secara informal dan malu-malu seorang caleg nasional PDIP menghubungi beberapa organisasi lesbi, gay dan waria untuk mendapatkan dukungan. Pada Pemilihan Presiden 2004, setidaknya di Jawa Timur, tim Mega- Hasyim mulai mendekati kelompok-kelompok gay dan waria, tetapi juga belum sepenuh hati.
Sejak tahun 2004 pula, Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN- HAM) yang disusun oleh Direktorat Jenderal Perlindungan HAM, Departemen Hukum dan HAM, secara resmi dan eksplisit memasukkan lesbi, gay, biseks dan waria (dengan istilah LGBT) sebagai kelompok khusus yang perlu dilindungi. Program konkret sedang disusun saat ini. Maka perkembangan organisasi gay dapat dibagi menjadi tiga tahap: tahap kontroversi di media massa, tahap pemberdayaan melalui program HIV/AIDS,
dan tahap aliansi politik dengan kekuatan-kekuatan prodemokrasi dan HAM. Pengorganisasian lesbi merupakan usaha yang lebih sulit. Organisasi lesbi yang ada, yang jumlahnya sedikit, tidak terbuka pada media massa. Kita juga mengalami penindasan ganda: diskriminasi terhadap perempuan, dan terhadap
orang-orang dengan seksualitas yang “tidak lazim.” Namun pada bulan Desember 1998, isyu-isyu lesbi dibahas pada Kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta, dan seorang lesbi terbuka dipilih untuk duduk mewakili sektor lesbi (Sektor 15) pada presidium Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan
Demokrasi yang dibentuk pada Kongres itu. Dalam dua tahun terakhir ini juga gencar komunikasi antarlesbi melalui internet, dengan hasil berupa pertemuan bulanan di berbagai lokasi di Jakarta.
Satu fenomena yang penting dalam sejarah gay, lesbi, waria dan biseks di Indonesia adalah muncul organisasi-organisasi waria sudah sejak akhir tahun 1960-an. Hal ini tampaknya merupakan hasil keterbukaan sejenak yang menandai awal rezim Soeharto kala itu. Memang dalam profesi yang terbatas sebagai artis, penata kecantikan, perias penganten dan paranormal, waria mendapat tempat dalam masyarakat Indonesia.
GAYa NUSANTARA
GAYa NUSANTARA (GN) menyediakan layanan bagi kaum gay (dan dalam batas tertentu juga bagi waria, lesbi dan biseks), seperti pendidikan kesehatan seksual, konseling (melalui hotline telepon, korespondensi serta tatap muka), dan penerbitan majalah bulanan (tiras: 400–800 eksemplar). Kami juga menyelenggarakan advokasi melalui media massa dengan menyediakan diri
untuk diliput. Organisasi nonpemerintah ini juga menjalin aliansi dengan organisasi prodemokrasi, HAM, dan feminis. Dengan berkomunikasi melalui media, kami sebagai organisasi kecil dapat mendidik masyarakat umum tentang isyu-isyu kesehatan seksual gay.
Kerja GN dalam gerakan gay Indonesia penuh dengan tantangan. Dari tahun 1993 hingga 1999, program HIV/AIDS pemerintah memarginalkan GN karena kuatnya heteroseksisme dan homofobia di kalangan pemerintah. Namun keadaan telah perlahan-lahan membaik. Sesudah cukup lama kesehatan seksual
lelaki tidak mendapatkan perhatian yang semestinya, sejak 2001 ada program di bidang itu di berbagai daerah di Indonesia. Diharapkan dengan konsepsi kesehatan seksual fisik, psikologis dan sosial yang terpadu, akan kian berkembang komunitas-komunitas di berbagai daerah, dengan pemahaman yang menyeluruh tentang HAM dan kesadaran hukum. Harus diperjuangkan juga agar program semacam itu membuka kesempatan untuk agenda politik yang pada akhirnya bermuara pada perubahan hukum dan kerja dengan serikat buruh.
Hasil jerih-payah GN dalam memperjuangkan hak-hak asasi dan seksual kaum gay mendorong kita untuk terus memainkan peran pemimpin dalam bidang ini. Bahkan sejak 2004 kita memperluas amanat organisasi sehingga tidak melulu memperjuangkan isyu ataupun kaum lesbi, gay, biseks dan waria, tetapi juga siapa pun yang beragam seks, gender dan seksualitasnya.
Surabaya, 9 Agustus 2006

*Naskah presentasi pada Semiloka Hak atas Kebebasan Pribadi bagi Kelompok Lesbian,
Gay, Biseksual, Interseksual, Transgender dan Transeksual, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia,
Kuta, 15–16 Agustus 2006. Versi sebelumnya pernah dipresentasikan pada Workshop on The Role
of Civil Society in Advancing Human Rights within the Current Socio/Political Context, Hivos–
ELSAM, Puncak, 17–18 Mei 2005; dan pada Halaqah Orientasi Seks dalam Perspektif Gender dan
Tradisi Islam, Rahima, Jakarta, 28–29 April 2005. Sebagian pernah terbit sebagai “Claiming Gay
Persons’ Sexual Rights in Indonesia,” Sexual Health Exchange 2001/3, hal. 7–8
(www.kit.nl/ils/exchange_content/ html/2001-3-claiming_gay_persons.asp), dengan penyesuaian
seperlunya, khususnya latar belakang konseptual yang lebih terjabar. Terima kasih diucapkan
pada Joost Hoppenbrouwer atas pengeditan tulisan itu. Sebagian pula didasarkan pada kata
pengantar saya, “Demi Kebahagiaan Anak Kita …,” dalam Poedjiati Tan, Mengenal Perbedaan
Orientasi Seksual Remaja Puteri (Yogyakarta, Galang, 2005), hal. 5–9.

1Untuk uraian yang lebih lengkap, periksa Dédé Oetomo, “Homoseksualitas di
Indonesia,” dlm Memberi Suara pada yang Bisu (Yogyakarta, Galang, 2001), hal. 30–36. Informasi
tambahan dan kerangka pikir seks dan gender mengenai bissu dan gender-gender lain pada
masyarakat Bugis diperoleh dari Sharyn Graham, “Sulawesi’s Fifth Gender,” Inside Indonesia
(www.insideindonesia.org) 66 (April–June 2001), hal. 16–17.
2Untuk kajian paling komprehensif mengenai hal ini, periksa Tom Boellstorff, The Gay
Archipelago: Sexuality and Nation in Indonesia (Princeton, Princeton Univ. Press, 2005).
3Informasi dari Saskia Wieringa, yang sedang melakukan penelitian mengenai hal ini.
4Kongres II dan III masing-masing diselenggarakan di Lembang, Jawa Barat (1995) dan
Denpasar, Bali (1997). Sesudah itu terjadi vakum, hingga tahun 2004, ketika diselenggarakan
Pertemuan Nasional Seksualitas dan Kesehatan Seksual Laki-laki, yang de facto sebetulnya
semacam kongres.

Posted in biseks, gay, lesbian, seksualitas, transeksual, transgender, waria | Leave a comment