Perempuan dan Air Mata

Aku tak bermaksud menitipkan letih,
perempuan setengah baya berkerudung putih,
diam berdiri di seberang trotoar jalan,
menangkap setiap pengembaraan senyuman.

Seperti mau bersembunyi dari keramaian,
sebab tak mampu dia menemukan senyuman yang tepat,
hanya luka dan tangisan yang mendera,
bagai peluh yang mengalir terlalu deras.

Tak perlu menunggu cukup lama,
pipi kemerah-merahan nan lembut menjadi lembab,
menggerayangi separuh wajah hanya karena tak tahan,
seseorang telah membuat dia terluka.

Aku ingin cepat berlari ke arahnya,
menenangkan atau hanya sekedar menemaninya berbicara,
apalagi aku memiliki sapu tangan,
kalau-kalau dia ingin mengusap air matanya…

This entry was posted in puisi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s