Sebentang Petang

Barangkali,
malam yang menghembuskan dingin ke tubuhku ini,
pesan rindu darimu,
yang menggoda untuk menggenggam lagi tanganmu,
tapi kita sudah lama berlalu….
mula pertemuan kita tak hendak memintal asmara yg syahdu,
tapi lebih berjaga dari kedatangan sepi yang pilu,
lalu kerap membahas album-album tua:
album tua mengundang gundah.

Kita sama-sama mengerti,
pundakmu dan pundakku terlalu lebar untuk tak tersentuh apa-apa,
dan dari malam ke malam (setelah kita berlalu),
tak kudengar lagi kata-kata manis, mungkin juga kamu…

Ranting tak pernah memanggil daunnya yang jatuh.
cukuplah ia terima lambaiannya dan ucapan yang kelu,
selebihnya, menjaga yang tersisa.

Sesungguhnya, engkau telah menjelma stupa bagiku,
dan bagimu, aku menjelma arca.
Mungkinkah stupa dan arca kembali kepada abad yang telah tiada?
sayangku, jangan hitung jumlah rindu atau kepergian di dadamu,
tapi hitunglah jumlah kedatangan di pintu rumahmu.
mungkin itu yang membuat kau dan aku dapat saling mengenang di sebentang petang yang telah berlalu….

Mahmed “Iphoel” Pujangga
01 04 09
(Untuk persahabatanku)

This entry was posted in kenangan, puisi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s