SEKSUALOGIKA

Ketika kita mendengar, seseorang mengeluarkan kata “seks”, maka secara umum, asosiasi yang terlintas di benak kita adalah segala hal yang terkait dengan keintiman dan hal-hal yang berbau “mesum”. padahal ketika kita mencoba menggali kata tersebut secara ilmiah, maka kita akan menemukan beragam pengertian dalam sudut pandang yang berbeda. katakanlah setidaknya, menurut Jufri (baca buku “seksualitas”), seks dapat di golongkan ke dalam 5 dimensi (biologis, perilaku, budaya, sosial dan gender).
Seperti kita ketahui, beberapa kebudayaan di Indonesia menutup rapat-rapat perbincangan seksualitas. hal ini dikarenakan oleh sistem budaya yang di anut oleh masyarakat yang masih melabelkan seks sebagai sesuatu yang tabu dan “menjijikkan”. Kalaupun ada, diskusi mengenai persoalan seks hanya diperuntukkan bagi orang tua, telah menikah dan yang telah dianggap telah dewasa (secara umur). Perbincangannya pun dilakukan secara tertutup dan di dalam ruang yang tak di jangkau oleh publik. Dapat pula kita jumpai cerita tentang seks dalam bentuk lelucon warung kopi atau cerita rakyat (folklor) yang pada akhirnya akan mereduksi pengertian dari seks itu sendiri, sehingga distribusi pengetahuan tentang seks menjadi sangat kabur.
Institusi sekolah juga ikut dalam program “membutakan pengetahuan seks” pada remaja Indonesia yang jelas-jelas sangat membutuhkan pengetahuan tersebut. Tak dapat di pungkiri, para pemikir-pemikir bangsa (dalam hal ini yang berkaitan dengan dunia sekolah) belum cukup berani mengambil keputusan untuk memasukkan mata pelajaran seksualitas ke dalam kurikulu sekolah, tentunya sesuai proporsinya. Betapa tidak, tatkala kita mencoba mendalami pengetahuan remaja tentang seksualitas, adalah suatu kelangkaan ketika mereka akan mampu menjelaskan secara gamblang tentang pengertian seks (bisa di cek kalau tidak percaya). Jangankan remaja, kalangan mahasiswa pun turut menyumbangkan kesesatan berfikir tentang persoalan seksualitas.
Kita menyadari, bahwa masa remaja adalah masa dimana manusia tengah mengalami gejolak jiwa yang teramat. Mereka adalah kaum yang tanpa tanggung-tanggung melakukan apa yang mereka sukai. Belum lagi labilitas yang dialami secara kontinyu akan menghadapkan mereka pada dunia yang serba penuh dengan nuansa ambiguitasnya. Drama glamoritas cinta juga tengah mereka hadapi, serta rasa ingin tahu yang lebih tentang diri dan dunianya akan menambah cerita remaja mereka. Jika demikian logikanya, maka mereka yang tidak mendapatkan pengetahuan seks yang cukup akan berusaha mencari tahu dengan jalan apapun. Pertanyaannya, apakah cara mendapatkan informasi tersebut sudah benar? Kalau sudah benar, tidaka apa-apa, tapi kalau tidak?. Ketika manusia yang tidak berbekal pengetahuan seksual memadai ini memasuki dunia yang -saat ini- serba glamour dan memiliki sejuta ‘kenikmatan’ seksualitas, maka terjadilah hal-hal yang akan sangat merugikan diri mereka.
Era informasi dan teknologi hari ini sangat tidak terbatas. Kita dapat mengakses apa saja lewat via internet, begitupun informasi tentang seksualitas. Situs-situs porno dapat dengan mudah di buka, belum lagi video dan majalah porno yang di jual bebas tanpa harus melakukan sesuatu yang berbelit-belit (tidak seperti jaman dulu). Nah, kalau sudah begini, remaja yang memiliki jiwa suka coba-coba terhadap hal baru ini cenderung akan mencoba. Entah dengan mengunjungi tempat-tempat “terlarang” ataukah mencari cara agar pacarnya terjerat keinginan yang sama, yakni melakukan intercourse (hubungan kelamin).
Ada banyak data yang menyebutkan bahwa menikah di usia dini adalah hal yang biasa terjadi (baca buku “seksualitas remaja”, A.F Syaefuddin). Aborsi pada pasangan yang belum menikah pun menjadi fenomena yang merebak di kalangan manusia yang tak pernah mau lagi berfikir panjang. Hubungan suami istri antara laki-laki dan perempuan yang belum menikah tak dapat lagi di bendung jumlahnya (baca buku “seks in the kost”, Bang Iip). Masyarakat ini tidak akan lebih parah lagi ketika kita mau menyadari hal yang akan menghancurkan peradaban kita. Dengan kata lain, ada yang sedang tidak beres dengan kehidupan masyarakat kita.

This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s