EKSISTENSI

Semua adanya akan terbiasa,
cepat atau lambat hanya persoalan waktu,
seperti itulah cara kerjanya,
sebelum menatap kesempurnaan.

Bukan sebuah pekerjaan mudah,
langkah demi langkah walau harus tertatih,
terkadang harus memaksa ‘tuk berlari,
sepanjang tetap terus melangkah.

Lingkaran yang tak pernah terputus,
bak roda yang senantiasa berputar,
lalu kembali berulang-ulang lagi,
seperti sebuah siklus yang ku sebut kehidupan.

Jiwa-jiwa yang hilang (tersesat),
tak akan sanggup menemukan cahayanya,
tanpa mencoba mencari sumber dari cahaya itu,
agar jiwa yang menempati jasad semakin identik dengan-Nya.

Akhirnya “ketiadaan” (ada itu sendiri) memanggil,
lalu semua tiba-tiba berhenti,
hanya antara aku dan diriku,
satu lawan satu!!!

Hingga panggilan lain menjemput untuk berkumpul dikeabadian…

This entry was posted in eksistensi, filsafat, puisi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s