PERKADERAN HMI Cabang Makassar Timur


GAMBARAN UMUM KONDISI PERKADERAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM CABANG MAKASSAR TIMUR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

PROLOG
Sejauh yang kami ketahui, perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki dua dimensi penting, yakni; dimensi internal dan dimensi eksternal. Dimensi internal yang dimaksud adalah pemahaman tentang perkaderan sebagai wahana enkulturasi, sosialisasi dan pengamalan nilai-nilai Islam kedalam diri kader. Dalam pendekatan dimensi ini, maka akan terjelaskan bahwa perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan kanal transformasi nilai atau ikhtiar menggeser nilai anutan para kader dari nilai jahiliyah menuju kearah nilai Islam sehingga tujuan HMI dapat tercapai. Perkaderan menjadi arena menawarkan nilai Islam sebagai nilai alternatif yang harus dipilih oleh kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Sementara itu, dimensi eksternal perkaderan yang dimaksud adalah menempatkan perkaderan sebagai ajang kontestasi dan ruang aktualisasi potensi diri kadernya. Dimensi ini memberi ruang yang lebih luas bagi pengembangan keilmuan, minat dan bakat seseorang yang tengah berproses dalam perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Memahami Perubahan dan Konteks Zaman
Dalam diskursus perubahan sosial, dapat diamati bahwa setiap sejarah memiliki cerita dan semangatnya masing-masing. Adalah sebuah keniscayaan, bahwa kebudayaan memiliki maknanya sendiri. Terlepas bahwa makna tersebut adalah reproduksi massal komunitas tertentu ataukah reproduksi individu penganut kebudayaan tersebut. Pada intinya, kebudayaan adalah hasil reproduksi manusia yang dilakukan secara berulang-ulang hingga menemui konteks kesempurnaannya.
Dalam konteks ini, perkaderan dapat dilihat sebagai salah satu manifestasi budaya dalam pendekatan kognisi (pengetahuan). Jika seperti ini, artinya reproduksi budaya perkaderan tak pernah terlepas dari seperti apa preferensi yang dimiliki kelompok (komunitas) tersebut, entah apakah itu nilai, mentalitas serta berbagai hal yang berkenaan dengan pengetahuan penganutnya. Hal ini mengakibatkan pada setiap sejarah perkaderan yang ada, memiliki warna atau karakteristik khasnya tersendiri yang barang tentu akan membuat perbedaan perkaderan di tiap zaman yang berbeda pula.
Konsekuensi logis dari asumsi tersebut adalah bahwa budaya perkaderan tidaklah statis melainkan dinamis. Perubahan akan senantiasa terjadi cepat atau lambat. Namun, seringkali perubahan tidak selamanya menuai hasil yang lebih baik. Oleh karena itu pengawalan perkaderan merupakan hal yang mesti secara serius untuk diperhatikan oleh semua kalangan (stake holder) pengader.
Makalah ini berusaha mengungkapkan bagaimana dan seperti apa kondisi perkaderan di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Makassar Timur dalam mengalami perubahannya. Secara umum, kami mencoba merefleksikan romantisme kejayaan HMI serta sebuah kondisi yang diyakini mampu membuat paradigma perkaderan HMI dapat kembali kearah (koridor) yang semestinya (ideal) sesuai dengan konteks zamannya. Dengan kata lain, makalah ini adalah sebuah gagasan reflektif dari kami para penggelisah kondisi perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar Timur.

PEMBAHASAN
Perkaderan dalam HMI sebenarnya telah dirumuskan dalam pedoman perkaderan yang termaktub dalam aturan-aturan dasar HMI. Namun pada kenyataannya, pedoman perkaderan yang telah ada ini cenderung di abaikan dan tidak di implementasikan sebagaimana mestinya. Ada banyak faktor, bisa karena tidak semua pelaku perkaderan mampu memahami secara baik pedoman yang ada tersebut, belum lagi, hanya sebagian anggota atau kader saja yang membaca atau senantiasa bergumul dengan konstitusi dan aturan-aturan main yang ada pada Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Refleksi Paradigma Perkaderan HMI
Pada dasarnya, kunci keberhasilan HMI dalam pendulum pentas sejarah pergerakannya sebenarnya lebih disebabkan oleh ketekunannya dalam mengadakan proses kaderisasi, kontribusinya dalam diskursus intelektualisme Islam dan kemampuannya dalam mempertahankan independensinya, inilah sebenarnya tiga kunci yang satu sama lainnya saling bertaut tak terpisahkan hingga HMI pernah mencatatkan sejarah emas dalam diskursus intelektualisme Islam di Indonesia.
Keberhasilan ini lebih dikarenakan HMI mampu menerjemahkan Hakikat Perkaderan manusia seperti yang dikemukakan oleh pemikir sosiologi A.N Whitehead dalam teorinya yang berjudul Proses and Reality, yakni tentang kesadaran Proses dan Realiti. Whitehead mengatakan bahwa kesadaran proses yang dimaksud adalah berkenaan tentang suatu yang awal-akhir, sementara kesadaran realitas adalah pertemuan antara lahir dan batin. Maka dari penjelasan ini dapat kita simpulkan bahwa pertemuan kesadaran proses dengan kesadaran realitas merupakan hakikat perkaderan manusia yang bersifat lokalistik-hakiki (lokalitas yang paling hakiki). Sehingga ketika kita membangun paradigma perkaderan haruslah bisa memahami antara proses dan realitas kita secara integratif.

Pergeseran Paradigma Perkaderan
Penyempitan makna perkaderan ini ditunjukkan dengan adanya:
1. Basic Training HMI dianggap model paling penting dalam perkaderan HMl, menjadi kegiatan utama dan pokok, bahkan di beberapa komisariat cenderung menjadi satu-satunya kegiatan organisatoris yang pada akhirnya menjadikan HMI seolah-olah hanya sekedar organisasi Basic Training.
2. Relevansinva dengan kebutuhan pragmatis gerakan sosial dipertanyakan, sehubungan dengan upaya mempengaruhi transformasi sosial dalam bentuknya yang nyata.

Kondisi Objektif HMI Cabang Makassar Timur
Beberapa masalah-masalah yang akrab ditemukan pada HMI Cabang Makassar Timur :
• Sistem pendidikan yang sangat padat menjadikan akademik sebagai satu masalah yang cukup rumit diatasi. Kadang kala ketika diperhadapkan pada benturan ini, anggota atau kader akan lebih memilih mendahulukan aktifitas akademik (dan kami rasa itu benar), sehingga pilihan ini terkadang menyendat proses perkaderan yang akan berlangsung. Akibatnya, penurunan keterlibatan partisipasi menjadi terlihat.
• Kurangnya koordinasi yang terjalin antara sesama pengurus dan anggota HMI yang lain membuat realisasi program kerja perkaderan terkadang tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
• Ketidakhadiran beberapa pengurus komisariat pada rapat-rapat koordinasi dan evaluasi perkaderan yang dilaksanakan oleh pengurus cabang meyebabkan arus informasi dan koordinasi tidak berajalan dengan baik.
• Lemahnya pengetahuan para kader dan anggota tentang aturan-aturan dasar yang berlaku dalam tubuh Himpunan Mahasiswa Islam, sehingga dalam melakukan aktifitas perkaderan, pada beberapa aspek dilakukan menurut pembiasaan yang ada secara turun temurun (tradisi).
• Lembaga Khusus yang menangani secara teknis perkaderan menemui kondisi mati surinya. Sehingga Bidang Pembinaan Anggota (PA) Cabang yang kemudian langsung mengambil alih wewenang-wewenang yang dimiliki oleh BPL HMI Cabang Makassar Timur.

Indikasi Kemunduran Perkaderan HMI
Kejayaan yang dicatatkan HMI dalam pentas sejarah Bangsa Indonesia kini telah berlalu. Pada kenyataan sekarang, HMI tengah memasuki saat-saat dimana semua itu hanya akan menjadi kenangan terindah yang memudar. Ada banyak hal yang perlu menjadi renungan (refleksi) bersama, mengingat bahwa kita tidak menginginkan kondisi ini akan semakin diperparah tanpa adanya semangat untuk mengembalikan kejayaan itu.
Kami mengasumsikan bahwa indikasi mundurnya HMI dapat dilihat pada beberapa hal yaitu: pertama, hilangnya tradisi intelektual di HMI. Hegemoni sistem perkuliahan di kampus mengarahkan anggota HMI hanya sekedar memainkan tradisi akademik dengan mulai menggeser tradisi intelektual sebagai basis gerakan kritis kampus terhadap segala persoalan keumatan dan kebangsaan. Terdapat budaya ilmiah di kalangan HMI kini hanya menjadi pajangan pameran romantisme sejarah, kekuatan intelektual HMI kini hanyalah simbolisasi kebesaran nama tokoh-tokoh tertentu. Bahkan kita harus beronani dengan kehebatan-kehebatan masa lalu yang pernah diraih HMI. Yang menarik pula disini adalah institusi akademik (kampus) yang telah menjadi basis gerakan HMI sudah berani menerorkan rumor kepada mahasiswa agar kiranya tidak ada lagi lembaga yang bernama HMI di dalam kampus, seperti yang terjadi di pada beberapa komisariat di Cabang Makassar Timur.
Kedua, lima dimensi HMI dalam Tafsir Tujuan HMI dipandang secara parsial dan dikotomis oleh kader HMI, yang mana Islam sebagai basis ideologi organisasi yang semestinya menjadi ruh pergerakan kader HMI ternyata hanya dipandang sebagai suatu simbol tanpa makna, bahkan dapat dipastikan ke-Islam-an kader HMI kini dipertanyakan. Betapa tidak, diskusi panjang tentang NDP maupun Filsafat Theologi yang menghabiskan banyak waktu hanya dijawab dengan bentuk pembangkangan terhadap perintah Allah SWT. Sudah menjadi jargon bahwa kader HMI lebih menitikberatkan gerakannya pada dimensi kebangsaan yang menjurus pada keterlibatan dalam politik praktis. Kondisi ini kemudian tambah di perparah lagi dengan fenomena anggota HMI yang baru beberapa hari mengikuti basic training HMI telah terjerumus kedalam proses-proses politik tersebut dan akhirnya berimbas pada disorientasi anggota yang tertuju pada kekuasaan semata dan melupakan tujuan daripada terbentuknya kualitas Insan Cita. Sehingga tercipta sebuah label besar “Talk Only No Action” oleh beberapa mahasiswa termasuk kader-kader HMI itu sendiri yang ada di berbagai kampus-kampus dan berbagai organisasi-organisasi lain yang menjadi komplementer bagi HMI.
Ketiga, pada kasus hubungan senior dan junior yang kurang sehat, ini juga berkaitan dengan kritik-kritik terhadap pengader, yaitu pengader dianggap serba tahu. Model senior yang (kadang-kadang) menjadi beban ditimpakan pada mereka (junior) yakni, mereka diharapkan dapat bicara apa saja, sehingga terjadi tumpang tindih pengertian antara pengader dan senior, meski kata senior bukanlah istilah resmi atau istilah dokumen, melainkan istilah kultural. Akibatnya dalam pola hubungan ini, tercipta sebuah pencitraan bahwa senior yang lebih hebat pada kapasitas pengetahuan tertentu- ketimbang junior. Dalam posisi seperti ini, junior cenderung tak bisa mengelak jika pada suatu ketika di intervensi oleh seniornya. Semua hal tersebut berimbas pada ketimpangan hubungan senior-junior (eksploitasi). Konsekuensi ini mengakibatkan junior hanya menjadi pion-pion bagi kepentingan politik senior ketika mereka di butuhkan.
Keempat, yakni lemahnya akuntabilitas, kredibilitas dan tersendatnya perkaderan dibeberapa komisariat. Namun masalah ini tidak begitu signifikan karena di imbangi dengan komisariat lain yang malah terkadang sangat intens melakukan proses kaderisasi level Basic Training HMI. Yang terjadi hanya frekuensi training LK II yang dari tahun ke tahun nampak sekali telah terjadi penurunan, baik secara kuantitas terlebih lagi dengan kualitasnya. Semua boleh berubah, tetapi kader HMI yang berkarakter Insan Cita tetap harus bertahan untuk bagaimana memainkan prinsip yang didominasi oleh nilai-nilai keislaman dan keilmuan.
Singkatnya, kondisi perkaderan HMI tidak lagi bersifat transformatif, sehingga tidak mendorong dan menjamin kader berperan di masyarakat umum. Memang kita memiliki training-khusus, tetapi hanya sebagai pendukung bagi training-umum: menyiapkan pengader. Ada pula training ekstern, sebuah training politik, yang memberi wawasan politik bagi kader, namun tidak diarahkan pada keahlian khusus, seperti riset (penelitian) yang menurut kami sangat penting dimiliki oleh anak-anak HMI. Mungkin ini dapat dijadikan sebagai rekomendasi untuk membentuk Lembaga Kekaryaan dalam Bidang Riset (Penelitian), sehingga HMI juga memiliki Bank Data.

PENUTUP
Pada konteks cabang, sekedar usul (mungkin) sebaiknya praktek perkaderan merupakan otonomi cabang dalam hal-hal atau kebutuhan khsusus. Dalam soal pelaksanaan training, kritikan yang ditimpakan adalah pendekatan yang digunakan, terutama pada kasus Basic Training tadi, masih bersifat ideologis-dogmatis. Demikian pula hubungan senior dan junior, paling tidak dalam perasaan banyak orang. Sehingga usulan kesehatannya ialah dengan kembali pada tuntunan dokumen perkaderan yaitu partisipatif atau partisipatoris. Juga sebagai apresiasi terhadap usulan model dinamika kelompok.
HMI dengan segenap potensi yang dimilikinya (social capital) semestinya menjadi lokomotif perubahan terdepan didaerah ini dan bangsa ini pada umumnya lagi. Kader-kadernya diharapkan mampu berdaya guna di lingkungan sekitarnya. Setidaknya tidak menjadi beban sosial masyarakat. Sebuah pertaruhan masa depan yang tengah dilakoni oleh kader-kader HMI kedepannya. Namun demikian, terdapat tuntutan yang kuat untuk menghubungkan perkaderan HMI dengan masalah dan proses kemasyarakatan secara lebih konkrit. Sejumlah pertanyaan yang sudah dikemukakan diatas disamping menunjukkan kenyataan ini, juga menyadarkan kita akan tingkat perubahan posisi dan kebutuhan sosio-budaya dan sosio-politik HMl.
Pada dimensi lain, secara umum perkaderan HMI dianggap tidak lagi transformatif terhadap keadaan masyarakat yang berada pada kondisi kesakitan. Tujuan kurang didefinisikan dan diterjemahkan secara jelas dalam perkaderan dan bahasa (logika) gerakan, seolah-olah terjadi diskontinuitas. Baik konsep kunci Insan Cita dan masvarakat ideal belum mendapatkan perumusannya yang layak sebagai prinsip-prinsip transformasi masyarakat atau pertumbuhan individu dan masyarakat.
Dibutuhkan transformasi dari normatifitas-subjektif kepada objektivitas-empirik atas konsep-konsep Insan Cita dan masyarakat ideal tersebut. Islam dan kader hendaknya tertransformasi secara obyektif menjadi prinsip dan agen perubahan diri dan masyarakat, bukan sekedar jargon normatif dan bahan diskursus. Kader memiliki mental dan etos-profetik, semangat kenabian melakukan pembebasan dari semua bentuk ketidakadilan baik (terutama) dalam dirinya sendiri rnaupun masyarakat sesuai dengan proporsinya masing-masing. Salah satu syaratnya ialah tidak melihat Islam dan HMI sebagai monolitik.
Menurut hemat kami, fenomena di atas merupakan fenomena yang relatif universal terjadi pada kebanyakan cabang-cabang yang ada di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) terutama bagi cabang yang masih berumur muda seperti HMI Cabang Makassar Timur. Maka dari itu, RAKORNAS HMI kali ini kami harapkan dapat menemukan sebuah rekomendasi untuk kemudian menjadikan kondisi perkaderan HMI kedepannya dapat lebih baik sesuai dengan konteks dan spirit zamannya. Amin.

Billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
YAKIN USAHA SAMPAI

This entry was posted in himpunan mahasiswa islam, perkaderan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s