Strategi dan Taktik Rekrutmen Anggota HMI Cabang MAKASSAR TIMUR


Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

PROLOG
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak kelahirannya, selalu menempatkan diri sebagai gerakan mahasiswa Islam yang kritis dan konstruktif ditengah persoalan sosial politik dan keummatan. Bangunan kesadaran inilah yang menjadikan HMI selalu berusaha melakukan masifikasi gagasan dan reorientasi gerakan guna menjawab tantangan zaman yang terus berkembang. Sebagai organisasi yang memilih mahasiswa sebagai sasaran geraknya, tentu saja penjelasan-penjelasan yang diberikan harus lebih bersifat intelektual paradigmatis dengan rasionalisasi yang tepat sebagaimana lingkungan akademis yang membentuk mahasiswa. Sebab jika tidak, maka upaya pembentukan identitas mahasiswa menuju gerak Insan Cita akan mengalami kesulitan untuk dicapai.
Di sinilah kiranya HMI mendapat tantangan yang sangat besar. Sebab disamping tujuan yang demikian ideal yang harus dicapai, waktu dan ruang geraknya juga terbatas hanya pada mahasiswa. Kondisi ini harus dipahami sebagai relitas sosial yang dihadapi oleh HMI, sehingga sejauhmana keberhasilan HMI dalam melakukan aktifitas gerakannya sangat tergantung pada seberapa banyak mahasiswa yang tertarik masuk menjadi anggota HMI (dalam ukuran kuantitas), juga sejauh mana HMI memberikan perubahan yang signifikan pada cara pandang dan pemikiran Mahasiswa serta keterlibatannya—terutama kader HMI—terhadap setiap perubahan sosial dan persoalan keummatan yang tengah berjalan (dalam ukuran kualitas).

PEMBAHASAN
Kondisi Dunia Kemahasiswaan
Untuk membaca kondisi sosial dunia mahasiswa sebagai alat bantu merumuskan konstruksi perkaderan HMI kedepan, secara umum dapat dipetakan sekurang-kurangnya dalam tiga hal, yakni : Pertama, dalam perbincangan sosial politik, dunia kampus tidak dapat dilepaskan dari hiruk pikuk kepentingan politik. Mahasiswa tetap menjadi lahan garap yang sangat strategis bagi pencapaian-pencapaian kepentingan politik tertentu. Hal ini dengan mudah dapat dilihat bahwa arah gerakan mahasiswa secara sosial-politik, sangat erat kaitanya dengan suasana politik yang tengah berjalan di tingkat negara, atau lebih substantif tren dan ideologi gerakan mahasiswa sangat khas dengan tren dan ideologi partai politik yang ada. Secara umum, tidak dapat dinafikan bahwa aspek ini menjadi fenomena tersendiri yang sangat berpengaruh bagi upaya konstruksi gerakan masa depan.
Kedua, secara akademik kemampuan analitis dan konsepsi keilmuan mahasiswa sangat ditentukan oleh desain sistem pendidikan yang sedang berjalan. Pada aspek inilah, kiranya masa depan bangsa secara umum sejak dini dapat dilihat dari warna dan karakter budaya mahasiswa yang terbentuk dari produk pendidikan tersebut. Dalam logika sederhana, hal ini dapat dipahami bahwa sebagian besar penentu kebijakan dan strategi bangsa baik secara ekonomi, politik, maupun sosial, adalah didominasi oleh kalangan akademisi. Pada sisi kedua ini juga sebuah gejala perubahan kurikulum yang sedemikian cepat harus dilihat atau—lebih tepatnya—dicurigai ada setting kepentingan apa dibalik bangunan kurikulum yang diterapkan. Sebab jika tidak, maka masa depan arah pendidikan hanya akan dijadikan alat bagi kepentingan kelompok tertentu, semisal dominasi kekuasaan modal dengan proyek menciptakan pekerja yang murah dan profesional sesuai dengan kerangka keilmuannya masing-masing yang ada di kurikulum pendidikan.
Ketiga, dalam skala yang lebih luas, dunia mahasiswa adalah tempat yang sangat strategis bagi keberlangsungan distribusi produk-produk teknologi yang erat kaitannya dengan pembangunan pasar global serta upaya menciptakan budaya konsumerisme. Tanpa melakukan penelitian yang lebih jauh, dapat dilihat dalam relitas keseharian, bahwa hampir semua daerah yang memiliki basis universitas, akses terhadap hasil teknologi dan produk-produk mutahir selalu terdepan. Pragmatisme mahasiswa yang akhir-akhir ini semakin marak, mengindikasikan bahwa dunia mahasiswa telah terkooptasi oleh budaya pasar yang mendorong manusia menjadi konsumtif, mendorong hidup instan dan keinginan untuk mengikuti budaya tren yang berkembang.
Pada ketiga aras inilah gerakan HMI diperhadapkan dalam tantangan dan kondisi sosial yang sangat dilematis. Disatu sisi jika tetap komitmen pada idealisme gerakan yang diusung, dapat dipastikan minat mahasiswa untuk ikut menjadi anggota serta kesiapan kader untuk tetap berpegang pada tradisi gerakan sulit diharapkan adanya. Sementara pada sisi yang lain pilihan desain gerakan yang lebih bersifat akomodatif terhadap arus budaya yang dominan secara kuantitas mungkin dapat dipertahankan, namun secara kualitas, kesadaran pada idealisme yang diusung menjadi sulit untuk ditanamkan.

Formulasi Strategi dan Taktik
Dalam dokumen pedoman perkaderan HMI, disebutkan bahwa metode dan pendekatan rekrutmen merupakan cara atau pola yang ditempuh dalam melakukan pendekatan kepada calon calon kader agar mereka mengenal dan tertarik menjadi kader HMI. Oleh karena itu, rekrutmen menjadi sebuah keniscayaan organisasi agar proses peremajaan senantiasa terjalin secara kontinyu agar keberlangsungan organisasi dapat tetap terjaga (eksis).

Secara garis besar setelah melihat ilustrasi dunia kampus hari ini, ada beberapa hal yang kemudian dapat kami rumuskan kedalam sebuah pola dan formulasi rekrutmen anggota. Formulasi tersebut sering kami sebut dengan istilah “HmI-sasi”.
1. Penguasaan posisi-posisi strategis dalam structural lembaga kemahasiswaan (seperti Himpunan, BEM Fakultas dan Lembaga Mahasiswa Tingkat Universitas).
Adalah bukan rahasia lagi bahwa HMI sebagai sebuah lembaga yang telah mapan dan modern memiliki tradisi dalam memproduksi kader-kader yang memiliki kemampuan leadership dan politis, sehingga ketika ada sebuah momen politik (suksesi) dalam sebuah lembaga internal kampus, kader-kader HMI mengambil peran dalam momen tersebut. Hasilnya terkadang cukup memuaskan, bahwa kader-kader HMI menjadi cukup diperhitungkan dalam kancah perpolitikan kampus. Kondisi ini dapat memunculkan 2 (dua) konsekuensi, yakni positif dan negatif. Pada metode rekruitmen ini, dapat dianggap Positif mengingat posisi strategis dalam struktur dapat jadikan sebagai alat untuk kemudian mensosialisasikan HMI kepada ruang publik tentang keberadaannya. Sehingga ketertarikan berorganisasi dapat dimunculkan. Sementara pada posisi negatifnya adalah dapat memberikan citra bahwa HMI adalah lembaga yang dekat dengan kekuasaan dan pada akhirnya memberikan sentimen-sentimen dari orang-orang yang melabeli politik (kekuasaan) sebagai hal yang buruk. Namun, sejauh politik dapat digunakan sebagai jembatan untuk menciptakan kebaikan, kami kira politik menjadi sebuah senjata yang masih diperkenankan.

2. Harmonisasi antara birokrat dan mahasiswa (anggota HMI).
Harmonisaisi ini masih kami anggap sebagai salah satu metode terpenting dalam gerakan HMI di kampus-kampus, karena betapa tidak, permasalahan yang seringkali dianggap paling mengganggu terciptanya kelancaran proses perkaderan adalah ketika tidak adanya bantuan materil (dalam hal ini fasilitas kampus yang sedang dinaungi) yang menjadi instrumen penting ketika akan mengadakan pelatihan-pelatihan atau program-program kerja dalam hal ini Basic Training HMI dan sebagainya di kampus-kampus.

3. Sosialisasi Simbolik.
Ada kecenderungan budaya mahasiswa yakni senang menggunakan simbol-simbol tertentu. Kemungkinan besar hal ini disebabkan karena setiap orang tengah mencari simbol-simbol bagi dirinya (kerinduan identitas simbolik). Oleh karena itu, misalnya dengan cara memakai baju-baju kaos yang di desain bergambar logo HMI sebagus mungkin serta membuat pin-pin yang dapat menggaet perhatian mahasiswa.

4. Komunikasi Persuasif.
Pada beberapa kasus, dapat diidentifikasi ada beberapa lembaga/organisasi kemahasiswaan (misalnya Himpunan dan BEM Fakultas) yang menanamkan label atau pencitraan negatif (pembusukan lembaga) terhadap HMI, bahkan terkadang tak segan-segan melarang dengan keras bagi para anggotanya untuk mengikuti/masuk dan bergaul dengan lembaga ini (ber-HMI). Oleh karena itu, komunikasi persuasif menjadi cara paling efektif dalam memberikan klarifikasi dan penjernihan citra yang dimaksudkan. Hal ini juga dianggap sebuah metode untuk menumbuhkan keterikatan emosional bagi suatu hubungan orang perorangan. Metode ini pun termaktub dalam pedoman perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

5. Mempertunjukkan identitas kebersamaan.
Menunjukkan iklim kebersamaan dikalangan HMI juga menjadi sebagai salah satu strategi yang penting menggaet simpati para mahasiswa non-HMI di kampus-kampus. Sebab, seperti yang kami katakana di atas, bahwa hari ini ada sebuah kecenderungan orang-orang untuk kemudian berusaha mencari jati diri (identitas) masing-masing yang di anggap sudah mulai kabur di telan globalisasi.

6. Adaptasi budaya.
Dalam konteks masyarakat kampus Makassar Timur, fenomena budaya pop (sebagai contoh golongan PUNK) menjadi sebuah pemandangan yang biasa terjadi. Ada semacam “penghargaan kebudayaan” dikalangan kader-kader HMI Makassar Timur. Hal ini yang menyebabkan anak-anak HMI dikampus-kampus menjadi mudah di terima, Oleh kerena dengan kondisi seperti ini, pembauran dengan berbagai golongan menjadi sangat dimungkinkan. Jadi, pencitraan tentang diskriminasi suatu kelompok budaya tertentu tidak dimiliki oleh HMI Cabang Makassar Timur, seperti yang dimiliki atau mungkin saja menjadi perintah mutlak bagi organisasi-organisai Islam yang lainyang tidak perlu saya sebutkan namanya.

PENUTUP
Beberapa strategi rekrutmen diatas merupakan proses-proses yang dimungkinkan terjadi secara alamiah (given) oleh kader-kader HMI. Diasumsikan karena telah menjadi kebiasaan-kebiasan yang di tradisikan dan akhirnya melembaga sebab menjadi cara-cara yang dianggap terbukti efektif guna rekrutmen anggota. Oleh karena itu, perhatian yang serius lebih kami utamakan kepada program-program pembangunan kapasitas kader yakni peningkatan dan pengembangan kapasitas keilmuan dan wacana NDP kader, serta penajaman-penajaman wacana sosial, sebab tanpa melakukan perumusan konsep model-model rekrutmen anggota yang direkayasa pun (direncanakan, diprogramkan) organisasi HMI masih cukup seksi dan menarik di mata mahasiswa Makassar Timur.
Ada banyak alasan, entah apakah sebab pragmatis atau idealisme tersendiri. Yang jelasnya bahwa mereka menganggap HMI masih dapat mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan yang mereka inginkan. Hal ini dapat dibuktikan dengan angka (kuantitas) anggota yang mengikuti Basic Training HMI di beberapa komisariat HMI Cabang Makassar Timur dari tahun ke tahun yang masih stabil (tidak terjadi penurunan kuantitas yang signifikan) dalam 2 tahun terakhir ini.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa ada juga beberapa (sebagian kecil) komisariat yang kesulitan melakukan proses-proses kerja perkaderan (perekrutan anggota) dikampusnya, hal ini lebih disebabkan karena kondisi birokratisasi kampus yang membatasi ruang gerak HMI dengan tidak diperkenankannya menggunakan fasilitas kampus oleh lembaga eksternal kampus (HMI). Alasan lain dikarenakan konflik lembaga ekstra kampus yang telah menjadi tradisi dari generasi ke generasi (misalnya komisariat UIM).
Serangkaian langkah taktis telah dilakukan, misalnya dengan melakukan proses-proses Basic Training HMI di luar kampus (namun membutuhkan banyak dana) atau bekerja sama dengan komisariat yang kondisi birokratisasinya masih lebih kondusif dan memihak. Hal ini pula membuat komunikasi dan hubungan antar komisariat bisa terjaga dengan baik (Komisariat STMIK, AKBA dan UIM serta Komisariat Teknik, MIPA dan Farmasi).

Billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
YAKIN USAHA SAMPAI

This entry was posted in himpunan mahasiswa islam, perkaderan, strategi, taktik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s