Individualisasi dalam Pemikiran Foucault


FOUCAULT adalah fenomena zaman. Kehidupan dan pemikirannya unik dan menarik dicermati tidak hanya dalam satu perspektif. Di samping multiperspektif, dengan membaca Foucault kita juga akan mendapatkan akar pemahaman yang cukup utuh mengenai problem-problem kemanusiaan dewasa ini. Ketekunannya meneliti arsip-arsip klasik mengenai kegilaan, seks, sado-masokisme dan penjara sekaligus keterlibatannya dalam kehidupan nyata para pelaku aktivitas tersebut melahirkan pemikiran besar tentang discourse, pengetahuan, kekuasaan, dan selanjutnya individualisasi yang belum dipikirkan orang sezaman dan sebelumnya.

Tidak terlalu mengherankan jika tokoh-tokoh favorit Foucault adalah filsuf dan sastrawan semacam Martin Heidegger, Marquis de Sade, Friedrich Holderlin, Gerard de Nervall, Friedrich Nietzsche, Van Gogh, Raymond Roussel, Antomin Artaud, Baudelaire (hlm. viii), juga Malcom Lowry –salah satu novelis pujaannya (hlm. 106). Foucault terpesona tidak saja karena umumnya mereka memilih eksistensialisme sebagai jalan filsafatnya namun yang lebih penting adalah keberanian mereka menetapkan pilihan-pilihan radikal dalam pemikirannya. Umumnya kalau tidak bunuh diri mereka mati dalam kondisi “gila”. Bagi Foucault apa yang paling menonjol atas mereka adalah keberanian menentang tidak saja realitas rezim politik tapi juga realitas sosial yang melahirkannya. Sade misalnya kerap bertindak kriminal-seksual justru untuk menemukan sekaligus bereksperimen atas realitas baru: suatu bentuk penentangan atas realitas lama yang dianggap monoton dan bersifat memenjarakan. Demikian pula dengan Baudelaire yang meninggal karena penyakit kelamin sphilis (hlm. 112), dan Nietzsche yang berakhir dengan kegilaan.

Perjalanan pemikiran Foucault pun dilalui dengan berbagai eksperimen seperti itu. Dalam studinya di Ecole Normale ia berulang-ulang mencoba bunuh diri; menyayat-nyayat nadi pergelangan tangannya sendiri, juga mengiris dadanya dengan pisau cukur (hlm. 118). Ia bahkan pernah dijebloskan ke rumah sakit jiwa lantaran mengejar-ngejar teman sekolahnya dengan pisau terhunus (hlm. 117). Ia amat menyukai adegan seks liar, menyaksikan eksperimen pemotongan tubuh mayat (ia lahir dari keluarga kaya berprofesi dokter bedah), dan hidup di tengah pelbagai komunitas kekerasan sebagai bentuk eksperimennya. Perilaku aneh dalam diri Foucault tersebut sangat mungkin diilhami dari tokoh-tokoh pujaannya yang memiliki latar pengelanaan “tubuh” yang “kelam”.

Dalam kesaksiannya atas berbagai adegan kekerasan ini, Foucault sungguh-sungguh takjub atas kehidupan bebas tersebut: melepaskan diri dari belenggu ‘ketubuhan’. Di San Fransisco, tempat di mana para gay berkumpul setelah bermigrasi pada tahun 1967 secara besar-besaran, Foucault kerap menghabiskan malam-malamnya di bar-bar yang mempertontonkan adegan seks liar: gado-gado sado-masokisme, penyiksaan alat kelamin dan sebagainya. Kegembiraannya diluapkan dengan pernyataan: is extraordinary to me, unbelieveble, incridible. There are no such places in France (hlm. 109-110).

Akhirnya, 25 Juni 1984, filsuf yang lahir di tengah teror pendudukan Jerman atas Perancis di masa Perang Dunia II, filsuf yang pejuang demokrasi, filsuf yang memilih kehidupan seksualnya secara homo sekaligus memberikan argumentasi ilmiah atas perilaku homoseksual inipun meninggal –bersamaan dengan (isu) penyakit AIDS yang menyerangnya. Foucault sendiri sambil tersenyum berujar bahwa apa salahnya saya mati karena AIDS? (hlm. 112). Bahkan seperti dikutip Newsweek (1993) Foucault konon pernah mengatakan bahwa kematian lantaran AIDS adalah sebuah death-wish –kematian yang memang ia rindukan. Satu bentuk penjelajahan kehidupan yang luar biasa!

LATAR belakang kehidupan di atas adalah salah satu alasan yang membuat pelbagai pemikirannya cenderung bercirikan orisinal. Dalam Surveiller et Punir (1975:358-359) seperti ditunjukkan Haryatmoko (Basis, 2002:9) Foucault mengatakan bahwa “kekuasaan yang menormalisasi” tidak hanya dijalankan di dalam penjara, tetapi juga beroperasi melalui mekanisme-mekanisme sosial yang dibangun untuk menjamin kesehatan, pengetahuan dan kesejahteraan. Artinya, operasi kuasa untuk membentuk disiplin individu tidak hanya dilakukan melalui lembaga-lembaga represif seperti penjara atau polisi, melainkan juga melalui apa yang disebut sebagai kegiatan-kegiatan sosial. Tesisnya yang dikenal luas tentang power-knowledge (kuasa-pengetahuan) merujuk pada argumen bahwa tidak satupun pengetahuan yang disebarkan bebas dari kepentingan kekuasaan.

Dengan konsentrasi penuh atas karya-karya yang dianggap gila, sinting, gelandangan, kriminal, studi Foucault melahirkan deskripsi yang akurat mengenai formasi pengetahuan yang digunakan kekuasaan untuk merekonstruksi pembentukan identitas manusia khususnya di Eropa. Risetnya tentang subjek modern melalui bentuk, praktik dan wacana pengetahuan ini, dengan membenarkan Nietzsche (ingat Nietzche dalam Will to Power), bahkan menyimpulkan setiap upaya untuk mencari kebenaran sekalipun sudah termasuk bentuk keinginan akan kekuasaan. Jadi, pemikiran praktis tentang subyek dan kekuasaan adalah semata-mata subyektivasi dan bukan sebagai obyektivasi.

Foucault sendiri adalah pemikir yang cukup produktif. Di antara karyanya yang patut mendapat perhatian adalah Maladie Mentale et Personalite (1954) dan direvisi dalam Maladie Mentale et Psychologie (Mental Illness and Psychology) (1959); Folie et de Raison: Historie de la Folie a l’age Classique (Madness and Civilization) (1961) yakni kajian historis Foucault tentang akar pembagian dualisme normal dan patologikal (normal dan abnormal) dalam sejarah Eropa; Naissance de la Clinique (The Birth of Clinic) (1963) yakni kajian historis yang mencari pondasi epistemologis munculnya ilmu kedokteran klinis di Perancis sekitar abad ke-18 dan ke-19; Les Mots et les Choses (The Order of Things) (1966) yakni kajian historis tentang akar-akar ilmu sosial, ekonomi, linguistik, biologi, dalam mana diumumkan di dalamnya mengenai matinya humanisme sebagai pelacur kebudayaan pascaperang; L’Archeologie du Savoir (Archeology of Knowledge) (1969) yakni sebuah postcriptum teoritis atas buku-buku sebelumnya dalam mana dijelaskan konsep dan teknik baru dalam membaca sejarah yang disebut sebagai arkeologi; Ceci ne pas un Pipe (This is not a Pipe) (1973) yakni berisi 6 analisis bahasa dan realitas lukisan Rene Magritte –pelukis tersohor Perancis; Surveiller et Punir (Discipline and Punish: The Birth of The Prison) (1975); Historie de la Sexualite: La Volonte de Savoir (History of Sex: An Introduction (1976) yakni analisis Foucault atas kekuasaan dan individualisasi di era modernitas (hlm. 33-46).

Sebagai seorang pemikir yang terpengaruh atas perdebatan sengit di Perancis tentang kekuasaan kala itu, Foucault muncul dengan bertubi-tubi melancarkan kritik atas definisi kuno tentang kekuasaan. Ia melancarkan kritik atas pemahaman kekuasaan yang diajarkan dalam konsep Marxisme, Freudian termasuk pula Nietzsche, yang dianggap Foucault menyebabkan adanya kesalahan “mendeteksi tanda” dalam perubahan zaman. Karl Marx dalam Das Capital tentang masyarakat, Sigmund Freud dalam Intrepretation of Dream tentang individu dan Nietzsche dalam Genealogy of Moral dan Birth Tragedy tentang humanisme (hlm. 189-190) bagi Foucault bukan konsep yang cukup (seperti dianut orang masa itu) untuk menjelaskan mengenai apa sesungguhnya kekuasaan. Meski terhadap filsuf yang disebut terakhir Foucault tampak lebih menunjukkan ketertarikannya.

SELAMA ini, demikian penulis Tubuh Yang Rasis ini mengemukakan, pemahaman tentang pemikiran Foucault di Indonesia banyak dijadikan pisau analisis untuk memperkuat pandangan yang sedang dikemukakan. Namun pandangan tersebut lebih banyak berorientasi pada pemikiran Foucault tentang kuasa-pengetahuan saja. Justru jika ditilik dari pelbagai karya yang dilahirkan Foucault akan terlihat inti pemikirannya, yakni individualisasi seperti secara eksplisit tercermin dalam Discipline and Punish dan The History of Sex. Secara sederhana bisa dikatakan Foucault ingin membukakan pandangan bahwa problem kekuasaan merupakan problem individu yang terlibat dalam pelbagai operasi dan relasi di dalamnya.

Mendasarkan diri pada analisis tersebut dikemukakan bahwa stereotip individu Eropa saat ini yang bertingkah laku serba teratur dan kerap menjustifikasi dirinya sebagai ras yang beradab sangat berhubungan dengan kontrol disiplin dan kontrol seksual dalam politik kesehatan di akhir abad ke-18 (hlm. 507-508). Seks, kata Foucault, adalah penyebab laten segala penyimpangan yang mungkin terjadi dalam diri individu, dan ia pun menyimpulkan bahwa seks (di zaman modern) bukanlah sesuatu yang natural given melainkan sesuatu yang sengaja dikonstruksi (hlm. 494). Pada akhirnya sikap rasisme muncul karena pembedaan-pembedaan tubuh: keunggulan dan keturunannya. Dan Foucault pun mengatakan bahwa keunggulan tubuh bukanlah atas dasar hereditas kasta seperti terjadi di Eropa masa lalu melainkan hereditas kesehatan.

Sumber: saiful-arif | 04 Juli 2008
Sumber: http://shaunbest.tripod.com
Situs terkait
http://www.michel-foucault.com
http://www.michel-foucault-archives.org/
http://www.foucault.info
http://rauli.cbs.dk/index.php/foucault-studies/index

This entry was posted in diskursus, filsafat, seksualitas, wacana. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s